06/26/2011

Cikotengsi

Beberapa hari yang lalu, saya baru dikasih tahu oleh Olleke bahwa Cikotengsi adalah singkatan dari Cikole Tengah Sukabumi. Cikole Tengah adalah nama sebuah jalan yang menghubungkan Jl Gunung Parang (Martadinata), di Selatan, dengan Jl Cikole (Samsudin SH) di Utara. Tepat notog ke balaikota. Belakangan nama jalan ini diganti menjadi Jl Ir. H. Juanda. Tapi sekolah yang posisinya tepat di pertigaan Cikotengsi- Gunung Parang, tetap dikenal dengan nama SMP Cikotengsi.

Sisi Timur

Kavling pertama di sisi Timur diduduki oleh SMP Cikotengsi.

Selanjutnya adalah SMP Negeri I. Ini adalah sekolah saya. Selama saya disana (1968-1970), kepala sekolahnya adalah Bpk Danadikusumah. Saya masih bisa menyebutkan beberapa nama gurunya: Pk Johar Efendi Saputra (Ilmu Bumi), Pk Edy (Ilmu Ukur), Pk Rafiudin (Bahasa Indonesia, Sejarah), Pk Adam Ibrahim (Agama Islam), Pk Tatang (Bahasa Inggeris), Ibu Aisyah (isteri pk Dana, PKK), Ibu Hajar, Pk Sadikin (PKN), Pk Hidayat, Pk Sumadihadi.

SGB 1.jpg

Di sebelah SMP Negeri I ada SGB (Sekolah Guru Bawah). Sejak saya masih TK pun (dan sebelumnya) saya sering dibawa ayah saya ke tempat ini, karena ayah saya mengajar di situ. Setiap hari Minggu, ayah saya suka main badminton di depan SGB. Kakak saya dan saya dibonceng di sepeda ayah saya, kakak saya di depan, saya di belakang. Supaya enak duduknya, dua buah kursi rotan diikatkan ke sepeda.

Kadang-kadang saya diajak masuk ke satu ruangan, lalu ayah saya memainkan lagu sederhana pada piano. Misalnya lagu Potong Bebek Angsa.

Gambar berikut memberi gambaran suasana di depan SGB, ketika sedang dipakai untuk kegiatan pandu (sekarang pramuka).

SGB 2.jpgDi situ juga ada SDL (Sekolah Dasar Latihan). Mungkin tempat para murid SGB berlatih mengajar.

Belakangan SGB berganti nama menjadi SPG. Di tepi pagar antara SMPN I dan SPG, di sisi SPG, biasa mangkal tukang bubur bernama Mang Jai. Saya kenal baik karena rumahnya dekat rumah saya di Kebon Jati. Saya dengar bisnisnya maju.

SPG sebenarnya tidak benar-benar terletak di tepi Jl Ir. H. Juanda. Keduanya dipisah oleh sebuah lapang yang cukup besar. Belakangan, lapangan ini suka dipakai oleh murid-murid SMP Negeri I untuk melakukan solat Ied.

Di sebelah Utara lapang dulu ada sebidang tanah yang dipakai untuk memelihara rusa. Memberi makan rusa merupakan atraksi yang paling menarik setiap kali saya dibawa menonton ayah badminton. Ayah biasanya mengambil daun pepaya di sekitar sangkar rusa, lalu saya dan kakak memberi makan rusa dengan daun pepaya. Karena perkara rusa ini lebih menarik, maka saya selalu menyebutnya "Bade ka uncal" bukan "Bade nonton badminton". Uncal adalah rusa, dalam bahasa Sunda. Belakangan kavling ini dipakai untuk mendirikan SMP Negeri II.

Di sebelah Utara SMP Negri II, adalah rumah Husni, teman saya di SMP Negri II.

Sisi Barat

Kavling pertama di sisi ini adalah sebuah toko yang menghadap ke Jl. Gunung Parang. Toko ini menjual bahan agar-agar.

Selanjutnya ada kios-kios. Mang Jai belakangan pindah ke sini.

Lalu ada toko, Gang Ajid, rumah, lalu rumah Memet (teman di SMPN I)

Sebuah jalan yang pendek, tapi cukup banyak kenangan disini.

(Tangerang Selatan, 25 Juni 2011)

06/06/2009

Palu - Poso - Tentena, circa 1980

Sekitar tahun 1980, saya harus ke Poso untuk urusan pekerjaan. Naik pesawat besar sampai ke Palu. Di Pelud Mutiara ketemu anak Tambang (angkatan 72, namanya Adi ?, Wanadri ?sekarang sudah meninggal ) yang juga mau ke Poso. Dari Palu ke Poso, naik Twin Otter. Tadinya saya pikir mendarat darurat di lapang sepak bola, ternyata memang runway-nya hanya pakai rumput. Kesan saya waktu itu, Poso kotanya tenang. Orang tidak saling curiga : saya menelepon salah sambung, tapi akhirnya jadi ngobrol lama dan becanda. Ada mahasiswa dari Unsrat Manado sedang KKN, enak saja ngobrol. Angkutan kotanya tidak punya rute pasti. Saya diantar sampai pintu hotel. Penumpang yang lain pun diantar sampai pintu rumahya. Benar-benar door-to-door service. Tapi bukan taksi, karena banyak penumpang yang naik sama-sama. <> Rekreasi ke Danau Poso. Lewat jembatan yang beratap. Di tepi danau ada kota Tentena. Hotel menyajikan ikan bakar disiram kecap bercampur potongan cabai dan bawang. Teman saya Damanik, memakan kepala ikan sampai habis. Tak pernah terbayang, 25 tahun sesudah itu ada bom meledak di tengah pasar Tentena menewaskan 20 orang. <> Sebelum pulang, ngobrol dengan Achmad, Kepala Pelabuhan Udara Kasiguncu Poso. Dia bilang : "Yang paling berat ditangani polisi paling perkara kawin lari." Tambahnya :"Orang disini saling kenal. Mungkin suratpun tidak usah pakai alamat lengkap." Mungkin Pk Achmad melebih-lebihkan, tapi saya tetap tidak percaya orang Poso saling membunuh, kenal atau tidak kenal. BSet (Dikirim ke milis ITB74, 29 Mei 2005)

05/31/2009

Decent places for hanging-out in Bandung


Decent places for hanging-out in Bandung magnify
Sekitar sepuluh tahun yang lalu saya mengantar Hans Verhoef, orang Belanda, ke Bandung untuk suatu keperluan. Dia bertanya dimana di Bandung, dosen-dosen biasa nangkring untuk ngobrol. Otak saya langsung searching. Karena dia datang dari budaya Eropa, jadi dalam bayangan saya dia itu sedang mencari semacam cafe, tavern, club, coffee-shop, bar atau tempat apa pun namanya, dimana orang bisa datang untuk minum (bir, kopi dll) sambil ngobrol. Ketika searching dalam kepala, saya skip tempat-tempat favorit anak muda, karena biasanya lebih banyak musik hingar-bingarnya. Dosen kan kebayangnya sudah berumur, serius, dan ngobrolnya lebih berbobot.

Search result : We did not find result for such place.

Akhirnya saya bawa ke ITB, untung mobil bisa masuk ke kampus. Kelalang keliling ... sambil bilang : "Inilah tempat dosen bekerja."

Lalu saya bawa dia ke Dago Tea House. Tempat ini kan ada di sekitar kampus Pertanian Unpad, dan dalam kompleks rumah-rumah dosen. Siapa tahu ada dosen lagi nangkring. Minimal, saya bisa memperlihatkan Bandung dilihat dari tempat ketinggian, di waktu malam. Eh ternyata pemandangannya pun terhalang oleh backdrop panggung pertunjukan.

Sekarang pun, setelah sepuluh tahun berlalu, saya tetap belum tahu kalau ada tempat semacam itu di Bandung. Sorry Hans (may you rest in peace) I am not sure if such place exists in Bandung.

<<<>>>

Mazhar Iqbal kelahiran Pakistan yang menetap di Inggeris cerita bahwa orang Inggeris tidak akan mengundang temennya ke rumah. (Mungkin rumahnya berantakan, karena seminggu belum nyuci baju. Atau istrinya judes pada tamu.) Lagi pula rumah mereka terletak jauh di sub-urban, bisa-bisa temennya baru sampai di rumah sendiri besok paginya (kalau kereta api masih ada). Jadi, setelah jam kantor, mereka bertemu dan ngobrol dengan teman di tempat yang netral : tavern. Kayaknya di Jepang juga begitu.

Bagaimana di Indonesia ? Kayaknya di Indonesia kebanyakan para suami kalau pulang langsung ke rumah, tidak singgah-singgah dulu.

<<<>>>

Beberapa hari yang lalu saya lihat ada artikel di Kompas mengenai tempat minum kopi di Bandung yang enak di Banceuy. Mungkin yang seperti ini bisa menjadi decent place for hanging-out. Kebanyakan orang Indonesia tidak minum bir, jadi tempat yang menyajikan kopi atau teh mestinya jadi pilihan bagus untuk nangkring bagi kebanyakan orang. Dari istilahnya saja kita sudah punya : warung kopi, tapi kok yang beken malah Star Buck dan Coffee Bean and Tea Leaf. Okelah ...di Jakarta ada Warung Kopi Toraja dan Tea Addict yang kayaknya lokal. Jadi yang di bandung mesti dijajal.

Kopi yang paling mahal yang pernah saya minum adalah sekitar Rp 30.000, untung teman saya yang bayar. Kalau belinya satu cangkir dan ngobrolnya satu jam, cukuplah harga itu ...

(Dikirim ke milis ITB, 13 Maret 2006)

1 2 3 4 5 6 7 8 Next