11/18/2006
Having fun can be serious business
Foto di bawah memperlihatkan satu sudut di Kebun Raya Bogor. Kapan terakhir kesana ?Kalau hari kerja (bukan libur) mobil bisa masuk. Jadi lumayan tidak terlalu capek jalan. Tapi kalau mau sekalian olahraga sih sebaiknya jalan.

Menurut Buku Petunjuknya, ada empat rute yang bisa dilalui. Tiap rute temanya berbeda. Di buku dijelaskan apa saja yang dapat kita lihat. Misalnya : "Fork left next to III.J, and notice to your right the oldest tree in the Garden, a lychee, Litchi chinensis (Sapind.), planted in 1823."
Judul subject di atas diambil dari satu sub-bab dalam buku Global Paradox tulisan John Naisbitt. Buktinya, sekarang sudah marak organisasi yang menjalankan olahraga arung jeram secara bisnis. Kalau kita hobby naik turun gunung, atau keluar masuk hutan, mungkin bisa ya menggabungkan antara hobby dan bisnis. Bikin rute perjalanan yang menarik, di Jawa Barat banyak tempat bagus.Lalu cari tamu lewat biro perjalanan atau hotel. Tarik fee.
(Diirim ke milis IA-ITB, 28 Maret 2005)
15:20 Posted in Bogor dskt | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Kebun Raya Bogor, Botanical Garden
Hoek van Holland
Dari Hoek van Holland saya pernah naik ferry ke Inggeris. Belum ada Channel Tunnel waktu itu, tahun 1985 (?). Waktu sedang ambil makan di kantin ferry, lihat botol berlabel Sambal Lampoeng made in Holland. Rasanya nyesek lihatnya, kok mereka yang dapat keuntungan ekonomis dari ciptaan orang Lampung. Ayam panggangnya besar sekali, porsinya setengah ekor. Jadi akhirnya saya bungkus dengan alumunium foil dan diselesaikan makannya di dek sambil menikmati angin winter yang hampir habis.
Di kereta api antara pelabuhan dan London, penuh dengan pendukung Liverpool. Terpaksa harus puja-puji group itu agar dapat tempat duduk. Lagi pula waktu itu baru terjadi kerusuhan di stadion Seychele (?) Belgia yang memakan korban jiwa.
Pulangnya, di ferry ada dua gadis Cina mendekati. Yang satu bilang sama saya kira-kira begini : "I bet you are from Singapore." Yang satu lagi bilang : "I bet you are from Malaysia." Setelah saya bilang saya dari Indonesia, keduanya pergi sambil cekikikan dan saling
cubit.
[Falatehan] Bisa terus-terusan enggak ya?
[BSet] Waarom niet ?
BSet
(Dikirim ke milis ITB74, 12 September 2002)
15:10 Posted in Belanda | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Hoek van Holland, Channel Tunnel
Solo - Selo - Borobudur
Bulan Oktober yang lalu, Presiden Megawati meresmikan jalur wisata Solo - Selo - Borobudur. Selama ini turis yang mau ke Borobudur menginapnya di Yogya. Pemda Jateng pasti tidak senang dengan keadaan ini : Jateng yang mengurus Borobudur tapi turisnya menginap di
Yogya sehingga uang turis mengalir ke Yogya lewat hotel-restoran dll. Kelihatannya kini Jawa Tengah berusaha mengubah hal itu, turis diarahkan untuk mengakses Borobudur dari Solo, dengan bonus keindahan pemandangan di Selo.
Saya pernah lewat ke Selo, dari Solo, lewat Boyolali, atas saran seorang keponakan. Sarannya, kalau mau lewat Selo jangan sore karena banyak kabut, you will miss the beautiful view. Tapi kalau waktunya tepat, mobil kita bisa seakan melayang di atas awan karena kita lebih tinggi dari awan. Sayang saya terlambat berangkat dari Solo karena berbagai hal, jadi tidak
bisa melihat keindahan seperti ituitu. Tapi di satu tempat, saya lihat pemandangan ke arah Boyolali yang sangat indah.
Selo terletak di antara dua puncak gunung : Merapi dan Merbabu. Jadi ada suatu tempat dimana kita bisa melihat cukup dekat kedua puncak itu, kalau tidak ada kabut tentu.
Kita akan masuk jalan besar lagi di daerah namanya Blabak (pabrik kertas ?). Sebelum ke Borobudur bisa singgah dulu ke Muntilan untuk beli lumpia.
Ada satu pertanyaan yang sedang saya cari jawabannya : apakah Ki Ageng Selo berasal dari Selo ini ?
Masih musim holiday ... ayo kita bersantai.
BSet
(Dikirim ke milis ITB74, 20 Desember 2002)
15:10 Posted in Jawa | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Solo, Selo, Borobudur, Merapi, Merbabu
Close encounters
Ada dua kejadian yang secara tidak sengaja mempertemukan saya secara dekat sekali dengan dua unsur penting dalam agama Katolik : pastur dan gereja. Tentu tanpa melupakan teman-teman Katolik saya yang sudah lama saya kenal baik.
Pertemuan dengan Pater Peperzaak
Kemungkinan besar anda memakai buku teks Kimia SMA yang ditulis oleh orang ini. Dia orang yang baik, saya dengar honor dari buku itu dia pakai untuk membuat ruang kimia di SMA Mardi Yuana Sukabumi. Lewat Pater van Dongen yang ketemu waktu tour, saya menemukan alamat Pater Peperzaak yang waktu itu sudah pulang ke Belanda. Kartu pos yang saya kirim dibalasnya dengan undangan untuk datang ke asramanya di Rotterdam. Dia menjemput saya di stasiun kereta. Kamarnya merupakan bagian dari gereja saya kira. Disana bicara panjang lebar mengenai Sukabumi, Mardi Yuana, Indonesia, mengapa dia pulang dari Indonesia dll. Disuguhi minuman botol entah apa namanya, mungkin buatan sendiri.
Ikut misa di sebuah monastery di Arnhem
Masih dalam rangka tour di Belanda. Malam Minggu menginap di Hotel Papendal Arnhem. Acara pertama hari Minggu adalah mengunjungi sebuah biara tua dekat hotel. Dimulai dengan menonton orang yang lagi misa. Seharusnya kami nonton di balkon, tapi karena balkon penuh maka waktu sampai tangga kami sudah diminta turun lagi dan dipersilahkan duduk di bangku peserta misa. Di samping saya duduk gadis dari Thailand yang juga tidak kebagian tempat di balkon (Are you catholic ? Saya tanya dia. No. Me neither). Total stranger.
Tapi karena kami duduk di area peserta misa, demi kepantasan (dan kepenasaranan) kami harus mengikuti gerak-gerik mereka. Orang-orang berlutut, kami ikut (ooh jadi ini gunanya bantal yang di bawah itu kata si gadis Thailand). Orang-orang nyanyi bahasa Belanda, kami hanya buka mulut tanpa suara.
Di akhir acara orang-orang antri kedepan, kami juga ikut. Ternyata orang-orang mengambil semacam kue tipis, dicelupkan ke anggur, lalu dimakan. Kami juga ikut. Mudah-mudahan Pater van Dongen tidak mendaftar saya menjadi jemaat gereja itu.
BSet
(Dikirim ke milis ITB74, 8 September 2002)
15:05 Posted in Belanda | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Peperzak, van Dongen, Mardi Yuana, Papendal
Ik ben Bang
Bang Win,
Di Den Haag, suatu kali saya mau memproses film slide di satu toko foto. Si petugasnya menyuruh saya menulis nama di formulir. Setelah dia baca nama saya dia bilang : "Bambi ... ? (sambil nunjuk saya) .... bang (sambil memperlihatkan mimik takut). "
Humor orang Belanda dan Inggeris dalam pengamatan saya memang lumayan cocok dengan kita-kita.
Jadi, kalau berkenalan sama orang Belanda yang kira-kira bisa bercanda saya suka bilang : "Ik ben Bang ... maar ik ben bang niet."
Terjemahannya kira-kira : Saya Bambang ... tapi saya tidak takut. Karena dalam bahasa Belanda : bang = takut.
Raymond Rerimasse pasti ngetawain saya pakai bahasa Belanda salah-salah.
BSet
(Dikirim ke milis ITB74, 11 September 2002)
15:05 Posted in Belanda | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Ik ben bang
Taman Kupu-kupu

Beberapa minggu yang lalu kita bicara mengenai penangkaran kupu-kupu. Hari Minggu yang lalu saya melihat satu fasilitas penangkaran di daerah Puncak, tepatnya di area Wana Wisata Curug 7, Cilember. Perum Perhutani mngelola area wanawisata ini, berikut Taman Kupu-kupunya.
Tidak begitu banyak terlihat kupu-kupu beterbangan dalam kubah tersebut. Mungkin bukan musimnya (?).
Ada 12 spesies yang ditangkar disit, 4 di antaranya spesies langka. Penambahan spesies tidak bisa dlakukan begitu saja. Harus didahului oleh penelitian mengenai pohon bunga yang diperlukan untuk makanannya serta untuk tempat menyimpan telurnya.
Sebagian dari individu kupu-kupu, siklus hidupnya dilalui di laboratorium yang letaknya ada di sekitar kubah. Maksudnya mungkin agar rate kematian dapat ditekan.
Kabarnya, di sekitar Jakarta, tempat penangkaran hanya yang ini. Yang di TMII hanya musium. Dulu sekali penah ada tempat penangkaran lain di Puncak, tapi sekarang sudah pindah ke Bali.
Tidak banyak yang mengunjungi Taman Kupu-kupu ini. Kebanyakan pengunjung wanawisata ini hanya ingin melihat air terjun atau berkemah.
(Dikirim ke milis IA-ITB, 27 Desember 2005)
14:55 Posted in Bogor dskt | Permalink | Comments (3) | Email this | Tags: Curug Tujuh, Taman Kupu-Kupu, penangkaran
Inspirasi dari Spanyol
Pernahkah anda memperhatikan kemiripan antara gambar kiri dan gambar kanan ?


Gambar kiri memperlihatkan Katedral Sagrada Familia di Spanyol yang mulai dibangun tahun 1882. Sedangkan gambar kanan memperlihatkan Menara Petronas di Malaysia yang dibangun baru-baru ini. Kemiripannya : ada dua menara lancip yang dihubungkan oleh jembatan.
Soal jembatan di Menara Petronas, arsiteknya mungkin akan berkilah bahwa ini diilhami oleh “jembatan” di bangunan lain di Malaysia, yaitu Gedung Sultan Abdul Samad di Kuala Lumpur.

Kedua jembatan tersebut sama-sama ditopang oleh dua sekur.
(Dikirim ke milis IA-ITB, 25 Januari 2005)
14:25 Posted in Kuala Lumpur | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Sagrada Familia, Petronas Tower, Sultan Abdul Samad
11/14/2006
Sehari di Scheveningen

Ini bukan promosi wisata ke Scheveningen, melainkan ajakan diskusi mengenai bagaimana informasi wisata dikemas dengan bagus.
Saya punya buku tua (20 tahunan) berjudul NS-Dagtoerisme, berisi daftar nama-nama tempat wisata di Belanda yang bisa menjadi objek wisata satu hari. Jelas ini ditujukan untuk warga Belanda sendiri karena bahasanya pun ternyata Bahasa Belanda. Informasi mengenai tempat wisata, cara mencapainya, hari dan jam buka, dan biayanya diuraikan dengan memadai. Diasumsikan si wisatawan pergi naik kendaraan umum, oleh karena itulah buku ini diterbitkan oleh NS, perusahaan kereta api Belanda. Karena disampaikan dengan sistematis dan logis, maka saya bisa mengerti isi buku ini walaupun Bahasa Belanda saya pas-pasan saja.
Misalnya Lokasi no 49 : ‘N Dagje Scheveningen. Disitu disebutkan obyek-obyek terletak di sekitar pantai Scheveningen : ada Panorama Mesdag, Musium Biologi Laut, Pier dan Kurhaus. Tiketnya bisa dibeli secara paket di setasiun tempat kita tinggal, atau bisa beli eceran. Di buku ini dituliskan nomor rute trem dan nomor rute bis untuk mencapai tempat itu.
Saya belum pernah melihat buku seperti ini di Indonesia. Sebagaimana diketahui, ide pemerintah agar kita libur hari Sabtu dan penggeseran hari-hari libur nasional agar berdempet dengan Minggu atau Sabtu, adalah agar warga Indonesia lebih banyak berwisata. Akan ada dampak ekonomi positif pada bagi para penduduk di sekitar tempat wisata. Buku seperti NS-Dagtoerisme ini akan mendukung gagasan pemerintah tersebut.
Saat ini, pada umumnya, turis diasumsikan akan datang dengan mobil pribadi, bis carteran atau truk carteran. Itu pun tidak selalu berjalan dengan baik : saya tidak pernah bisa menemukan arah ke Musium Kereta Api di Ambarawa, atau entrance ke Musium Bahari di Pasar Ikan, karena informasinya kurang detil.
Saya pernah membuat rencana, saya di Yogya hari ini akan ke sana, dan hari itu ke situ. Ternyata Musium Benteng yang terletak antara Malioboro dan Keraton itu tutup pada hari-hari tertentu. Saya baru tahu setelah saya ada di pintunya. Kedatangan yang sia-sia.
Bagaimana dengan turis individual/backpacker yang suka jalan sendiri atau berdua saja? Mereka adalah pasar yang perlu dilayani juga. Malahan mereka adalah pangsa yang paling akhir terpengaruh oleh berita buruk seperti isu bom dan lain-lain. Orang-orang di bandara, setasiun atau terminal selalu memaksa mereka naik taksi atau mobil carteran, padahal membiarkan mereka memilih moda angkutan sendiri, akan membuatnya lebih nyaman. Saya pernah jalan naik bis umum dari Yogya ke Borobudur, dengan teman Pakistan saya. Gangguan yang paling terasa adalah karena setiap orang di bis begitu ramah dan ingin bertanya, ada yang pakai bahasa Inggeris dan ada yang pakai bahasa India.
Nah, buku seperti NS-Dagtoerisme ini akan berguna baik untuk wisnu (wisatawan nusantara) maupun wisman (wisatawan mancanegara), yang jalan sendiri (tidak memakai guide).
Kalau anda pulang kampung saat Lebaran nanti, mungkin bisa sekalian mengidentifikasi tempat yang menarik yang bisa dicapai dari Jakarta. Bisa untuk “wisata satu hari”, atau “wisata dua hari” (Sabtu-Minggu). Kalau memang kendaraan umum disana kurang baik, apa mau dikata …. Kita naik mobil sendiri saja.
(Dikirim ke milis IA-ITB, 24 September 2006)
16:05 Posted in Belanda | Permalink | Comments (1) | Email this | Tags: Scheveningen, Panorama Mesdag, Kurhaus, Pier, NS-Dagtoerisme
Lewat sela dua gunung
Ini adalah ide liburan … semacam rekreasi outdoor … bukan rekreasi indoor. Jangan salah
Ini adalah perjalanan keluar kota dengan mobil sendiri pada hari libur anak sekolah yang sebentar lagi akan datang. Kalau sehari-hari kita ketemu isteri dan anak hanya beberapa menit di pagi hari, dan beberapa jam di malam hari, maka dengan perjalanan seperti ini sekeluarga akan seharian ada di mobil bersama-sama. Jadi, di mobil bisa becanda, bikin kuis, curhat, tukar pikiran. Pokoknya catch-up some backlog. Bayar utang ngobrol tuh sama anak-anak.
Tema perjalanan yang saya usulkan disini adalah LEWAT SELA DUA GUNUNG. Alasannya karena rutenya akan melewati tempat-tempat yang terletak di antara dua gunung.
Hari 1 : Jakarta – Cikampek – Cirebon – Purwokerto – Wonosobo
Berangkat pagi-pagi. Tidak usah lewat Indramayu, jadi di Lohbener belok kanan, lewat Jatibarang.
Di Plumbon sebaiknya ambil jalan tol biar lebih cepat, keluar di Kanci. Tidak usah lewat Cirebon kota.
Makan siang di Purwokerto, sekalian beli tempe goreng dulu, buat nyamikan selama perjalanan.
Di Wonosobo ada beberapa hotel bagus yang patut dicoba.
Hari 2 : Wonosobo – Dieng – Wonosobo – Temanggung – Magelang – Kopeng – Salatiga – Solo
Sebaiknya berangkat pagi agar tidak dihadang kabut di Dieng.
Antara Wonosobo – Temanggung , sebelum Parakan ada tempat namanya Kledung. Tempat ini diapit oleh G. Sindoro dan G. Sumbing. Disini ada rumah makan unik, caranya mirip kantin : kita ambil makanan dari sebuah meja panjang, lalu di ujung meja kita bayar makanan di kasir.
Di halaman rumah makan ada menara, kalau anda bawa binokuler anda bisa mengintip petani sedang nungging menanam kentang.
Kopeng yang dingin itu, juga diapit oleh dua gunung : Merbabu dan Telomoyo.
Hari 3 : Solo – Tawangmangu – Sarangan – Magetan – Madiun – Nganjuk –Kediri – Pare – Batu
Sebelum Tawangmanggu, di sebelah kiri ada patung Semar besar. Kalau anda tidak menemukannya berarti anda sudah kesasar.
Tawangmanggu letaknya diapit oleh G. Lawu dan G. Kukusan. Sebaiknya mobil dalam keadaan fit benar, terutama remnya, karena jalannya naik dan turun dengan curam.
Di Sarangan boleh singgah. Disini banyak orang jualan sandal kulit dengan alas karet mentah. Kalau anda sudah punya celana batik (sekarang lagi in), maka sandal kulit Magetan ini adalah pasangan yang serasinya.
Kalau lagi musim, juga bisa beli jeruk Magetan yang kadang disebut juga sebagai jeruk Bali.
Makan siang di Madiun, ada pecel.
Di Kediri beli keripik tahu untuk nyamikan di jalan.
Hari 4 : Istirahat di Batu
Ada hotel namanya Kusuma Agrowisata. Yang menarik disini adalah tamu boleh masuk ke kebun apel/strawberry dan memetik serta memaka apel/strawberry sejumlah tertentu. Kolam renangnya diisi air hangat. Jadi, selagi anak-anak sibuk berenang, bapak bisa dipijat sama ibu. Semua cukup sibuk kan ?
Kalau kurang sibuk, boleh ikut tur ke Bromo. Artinya harus siap bangun jam 2 malam. Sebaiknya ikut tur saja mengingat sudah tiga hari nyetir terus. Lagi pula jalannya mendaki, sempit dan gelap.
Di Hotel Tugu Malang saya dengar makanannya enak, selain hotelnya bagus.
Jangan coba-coba cari bakso Malang, pasti tidak akan ketemu.
Hari 5 : Batu – Malang – Kepanjen – Tulungagung – Ponorogo – Wonogiri – Solo
Sebenarnya kalau mau setia dengan tema, dari Batu harus lewat Semen yang diapit oleh G. Kelud dan G. Butak. Tapi saya belum mencobanya.
Waktu makan siang akan datang di sekitar Blitar. Yang berminat boleh ziarah dulu ke makam Bung Karno.
Kalau belum terlalu malam, di Solo bisa jalan-jalan dulu cari nasi liwet atau timlo.
Jadwal perjalanan ini tentu bisa diubah. Kalau nyetirnya ingin lebih santai, tempat perhentian untuk bermalam dapat ditambah.
Atau, di kota-kota tertentu dapat tinggal lebih lama. Di Solo mungkin anda ingin ikut pengajian dulu di Dalem Kalitan. Atau nyekar ke makam Ibu Tien he3x.
Hari 6 : Solo – Boyolali – Selo – Muntilan – Magelang
Mudah-mudahan status Awas Merapi sudah diturunkan pada waktu liburan nanti.
Selo terletak d celah antara G. Merapi dan G. Merbabu (Apakah Ki Ageng Selo bersal dari daerah ini). Sebaiknya tidak terlalu siang lewat jalan Selo ini, otherwise you will miss the beautiful scenic view of Merapi. Di beberapa bagian di rute ini, awan akan ada di bawah kita, jadi kita seperti berjalan di atas awan.
Masuk jalan besar lagi di Blabak.
Di Muntilan boleh belanja gethuk lindri yang colourful, atau lumpia.
Di Magelang ada hotel di tepi Sungai Progo Waktu pagi pemandangan ke arah G. Sumbing sangat bagus, kalau hari cerah.
Hari 7 : Magelang – Purworejo – Kebumen – Wangon – Bandung
Waktu makan siang akan jatuh di sekitar Wangon dan Banjar, ada rumah makan Pringgodani di sekitar sini.
Hari 8 : Bandung – Puncak – Jakarta
Jangan lewat Cipularang, karena kita harus konsisten dengan tema : lewat dua gunung, yaitu G. Gede-Pangrango dan G. Salak.
Kalau cuaca bagus, dari Restoran Sate Sinta yang dekat Cugenang-Cianjur, anda bisa menikmati pemandangan ke G. Gede.
Kalau anda bisa sampai di Restoran Rindu Alam pk 10-an, dan cuaca bagus, kita bisa melihat G. Salak.
Kalau belum lapar dan tidak mau singgah di Rindu Alam, berhentinya di rumah makan kecil dekat kebun teh, sambil minum kopi tubruk – makan roti bakar atau jagung rebus, pemandangannya sama : G. Salak. Kerucutnya yang hampir sempurna memang seperti buah salak.
Kalau cuaca lagi jelek, berhentinya di Restoran Puncak Pass saja, makan pancake alias panekoek.
Sebaiknya bikin reservasi hotel dulu, karena pada musim liburan anak sekolah mungkin susah kamar kosong.
Selamat mencoba.
(Dikirim ke milis IA-ITB, 21 Mei 2006)
15:38 Posted in Jawa | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: purwokerto, wonosobo, dieng, kledung, kopeng, solo, tawangmanggu
Sosok Gunung Salak - for early birds only

Siapa yang pernah lihat sosok Gunung Salak ? Kalau belum ... coba bangun pagi dan susuri Jagorawi dari Jakarta ke Bogor. Jangan lebih dari pukul 8. Mungkin anda akan mendapat pemandangan seperti di bawah.Kalau kameranya lebih bagus ... mungkin detil gunungnya akan lebih terlihat.
Pemandangan di foto ini mengingatkan saya pada lukisan anak-anak : unsur-unsurnya pasti jalan-gunung-matahari-sawah-pohon. Sawah, jalan dan pohon biasanya digambar dengn teknik perspektif. Matahari nongol dari balik gunung. Selamat mudik ... selamat berakhir pekan ... selamat menikmati pemandangan alam.
Salam,
Bambang (Dipublikasikan pertama kali di milis IA-ITB, 28 Oktober 2005)
15:25 Posted in Bogor dskt | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: gunung salak, bogor, jagorawi



