04/26/2008
Si Oyay
Sebagaimana yang sudah diceritakan oleh Maulyani dalam salah satu komennya, Atret itu mungkin orang yang terobsesi ingin bisa menyetir mobil. Jadi kalau dia berjalan, tangannya seakan-akan sedang memainkan setir mobil. Kalau ada batu agak besar menghalangi jalur mobil khayalannya, Atret akan berhenti. Lalu tangannya akan bergerak seakan-akan memindahkan posisi perseneling ke gigi mundur. Lalu di maju lagi dengan jalur yang berbeda. Kadang-kadang ada orang yang iseng, si batu halangan di geser ke jalur baru sehingga mobil si Atret kerjanya hanya maju mundur.
Entah siapa yang pertama menamai orang ini si Atret. Tapi atret memang berarti mundur (dari bahasa Belanda : achteruit).
Begitulah si Atret. Suka jadi pikiran bagaimana proses dia menentukan tujuan, memilih jalur. Mungkin bagi dia sendiri bukan masalah, itu semua dibiarkan mengalir saja tanpa dipikir.
Ada lagi orang gila yang bernama Ali (kalau tidak salah). Kalau kita kasih uang, dia mau menyanyikan satu lagu yang lucu. Satu-satunya lagu yang dia bisa nyanyikan : "Jarum dikasih jarum ... jarum peniti mana lubangnya ... cium dikasih cium ... cium di pipi mana rasanya."
Kalau soal Kaliwon, saya sudah menceritakannya cukup panjang dalam posting tersendiri dalam blog ini.
Di jalan utama kota Sukabumi (dulu disebut jalan raya saja, belakangan jadi Jl. Sudirman), di totogan Jl. Garuda ada Toko Surabaya. Di emper toko ini biasa terlihat duduk seorang perempuan yang biasa dipanggil si Oyay. Sebagaimana gelandangan yang lain, tubuh dan pakaiannya sangat kotor. Rambutnya panjang dan jempet. Yang paling menjijikan adalah karena dari matanya keluar kotoran, mungkin lendir atau apa. Teman saya bilang kotorannya itu seperti mentega (mau-maunya dia memperhatikan). Saya sih tidak tega memperhatikan wajahnya, hawatir kehilangan selera makan.
Seorang tukang obat mereka-reka cerita tentang si Oyay. Dia bilang Oyay itu kena penyakit sifilis atau raja singa. Rada masuk akal, di Bioskop Garuda dan Gedung Sandiwara Sri Asih memang sering terlihat pelacur menanti pelanggannya. Mungkin saja Oyay salah satunya, lalu terjangkit sifilis dari pelanggannya. Kata si tukang obat, sifilis itu akan menyerang saraf kaki (sehingga ngarampeol), tangan (sehingga komper),dan lidah (sehingga bicara menjadi pelo). Lalu si tukang obat memperagakan cara lari seorang penderita sifilis yang dikejar ular (Sunda : oray), tertatih-tatih, tangan komper bergoyang-goyang, sambil berteriak : “Oyaaay …!” Pose dan teriakan Oyay ini sering muncul diperagakan oleh teman-teman kalau sedang bercanda.
Dari segi membuat takut orang agar tidak berhubungan dengan pelacur, bagus juga cerita tukang obat ini. Tapi dari segi keakuratan aspek medisnya, entahlah …
Kabarnya pernah ada pegawai Dinas Sosial yang ditawari naik pangkat asal mau mengangkat Oyay ke mobil untuk disingkirkan dari jalan. Tapi entah bagaimana ceritanya, Oyay kembali duduk di lokasi itu.
Ada lagi seorang perempuan gila yang suka berjalan di sekitar Jl. Cikole. Menurut carpon tulisan Pk Johar Efsa (guru Ilmu Bumi di SMP 1), suaminya ditabrak delman ketika dia sedang naik sepeda. Rasa kehilangan yang mendalam membuatnya menjadi gila.
(Kenang-kenangan dari kota Sukabumi, 1955 - 1973)
10:25 Posted in Sukabumi | Permalink | Comments (2) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: oyay, atret, Johar efsa, sukabumi
04/24/2008
KALI Apa yang Mengalir di Tengah Kota Sukabumi ?
Pertanyaan teka-teki di atas terlontar ketika sedang bergurau di antara teman-teman SMP, sewaktu masih di Sukabumi. Satu teman menjawab Kali Cikiray, yang lain menjawab Kali Cipelang, Cisokan, Cisaat, Cicurug dan lain-lain.
Jawaban yang betul adalaaaaah …. Kaliwon.
Dari penampakan fisik, orang akan menggolongkan dia sebagai gelandangan, orang gila, pengemis dan sebagainya.
Dia bisa disebut gelandangan karena memang waktunya lebih banyak dihabiskan di jalan, duduk di trotoar, atau berjalan entah kemana. Kalau kita berjalan di jalan utama kota Sukabumi, yang biasa disebut Jalan Raya, hampir dapat dipastikan akan berpapasan dengan Kaliwon, atau menemukannya duduk di sekitar belokan ke Bioskop Garuda.
Dia bisa disebut orang gila karena dia selalu membawa seikat besar senjata tajam kemanapun dia pergi. Dalam ikatan itu ada samurai, macam-macam tombak, keris, macam-macam pedang, dan sebagainya. Taksiran saya, beratnya mungkin 20 kilo, dan Kaliwon sendiri waktu itu umurnya mungkin sekitar 60-an.
Potongan baju dan celananya seperti kepunyaan para jawara, berwarna hitam. Kain sarung dan ikat pinggang yang lebar melilit di pinggang. Kepala dililit oleh kain bermotif batik. Jari tangan penuh dengan cincin bermata besar. Ada gelang akar bahar hitam di pergelangan tangan. Roman mukanya keras, sorot matanya tajam, garis dagunya kuat seperti pangeran Diponegoro. Kulitnya coklat gelap, berkumis dan berjenggot.
Entah dimana dia tidur kalau malam. Tapi banyak sekali tempat untuk gelandangan tidur di kota Sukabumi, di antaranya adalah pelataran setasiun kereta api. Dengan gerbong-gerbong kosongnya.
Kaliwon tidak pernah terdengar mengancam orang dengan senjata tajamnya itu. Bahkan dia tidak pernah saya lihat menadahkan tangan untuk meminta uang pada orang yang lewat. Tapi dia akan menerima uang yang diberikan padanya, tanpa ekspresi apa-apa.
Saya tidak pernah mendengar Kaliwon bicara jelas. Dia cuma bergumam entah dengan bahasa Jawa, Belanda atau Sunda. Ada yang bilang Kaliwon kenal dengan, atau bahkan adalah teman seperjuangan Presiden Sukarno. Wallahu alam. Tidak pernah ada yang iseng melakukan check dan recheck.
Kegiatan sosial Kaliwon yang sering saya lihat adalah menonton sandiwara di Gedung Sandiwara Budaya, di depan markas Kodim. Dia menduduki yang khusus disediakan untuk dia. Kursi tersebut diletakkan tepat di depan panggung, di ujung gang yang membelah gedung di tengahnya, dari belakang sampai ke depan. Kabarnya dia suka dengan salah bintang panggung disitu, bahkan sering kabarnya melemparkan uang ke panggung untuk si bintang.
Jawatan Sosial kabarnya pernah berusaha menyingkirkan dia dari jalan. Tapi Kaliwon selalu kembali ke jalan … kembali mengalir lagi … di tengah kota Sukabumi.
(Kenangan tentang kota Sukabumi, 1955 - 1973)
22:50 Posted in Sukabumi | Permalink | Comments (7) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: sukabumi, kaliwon



