06/17/2008

Fak-fak

Saya pernah menginap di Fak-fak beberapa malam sekitar tahun 80 lah. Ditambah beberapa kali singgah setelah itu. Ada beberapa pengalaman yang menarik.

<> Bupatinya waktu itu bernama Sugiarto, atau seperti itulah. Mayor Infantri. Untuk ketemu Bupati gampang sekali, nyelonong saja ke rumahnya malam-malam. Salaman memperkenalkan diri, lalu ikut nimbrung ngobrol dan ngopi. Tapi kebanyakan sih dengerin dia menceritakan pengalamannya.

<> Wilayah Kabupaten Fak-fak sangat luas. Membentang dari pinggir pantai sampai ke gunung yang bersalju. Kalau ada penduduk yang meninggal karena kedinginan, itu karena mereka penduduk berjalan ke wilayah bersalju tanpa pakaian yang memadai. Itu kata beliau.

<> Tembagapura ada di dalam wilayah kabupaten Fak-fak. Tapi waktu itu tidak ada penerbangan langsung dari kota Fak-fak ke Tembagapura. Suatu kali mau ada Menteri Habibie berkunjung ke Tembagapura. Sebagai Bupati dia harus hadir dong di Tembagapura. Untuk menuju ke Tembagapura, pak Bupati terpaksa terbang lewat Sorong ke Ambon. Di sana dia ikut pesawat rombongan Menteri. Bayangkan ... untuk mencapai satu titik di wilayahnya sendiri, Bupati harus keluar propinsi, lalu balik lagi naik pesawat. Dari Ambon waktu itu memang ada pesawat Garuda langsung ke Tembagapura.

Mungkin karena proses perkenalannya kurang baik, maka terjadi hal yang lucu. Sesampai di Tembagapura, Pak Menteri bertanya pada asistennya :"Siapa sih orang itu ... kok ikut rombongan kita sejak dari Ambon?". Yang di-refer oleh Pak Menteri adalah Bupati Fak-fak yang notabene juga tuan rumah.

Sekarang sih saya dengar kabupaten Fak-fak sudah/sedang menjajagi mendirikan perusahaan penerbangan sendiri. kalau di Jawa ada dosen terbang, di Australi ada dokter terbang, maka di Fak-fak ada bupati terbang. Banyak duit.

<> Saya menginap di rumah seorang teman bernama Frans Budiman. Orang tuanya membuka toko (kalau tidak salah namanya toko Sahabat) dan punya pabrik roti. Pernah dihidangkan daging rusa. Beli di pasar mungkin, tapi yang pasti itu hasil berburu.

Kelihatannya masyarakatnya sangat rukun. Orang saling sapa di jalan tanpa memandang ras atau agama.

<> Pelabuhan Udara Fak-fak terletak hampir di bibir jurang yang dalam. Kalau pilotnya kurang terampil ketika landing atau take off, resikonya masuk ke jurang dan jatuh ke laut di bawah sana.

Trackbacks

The URL to Trackback this post is: http://startfromsprouts.blogspirit.com/trackback/1576789

Comments

Saya sepupunya Frans Budiman yg sampai sekarang berdomisili di Fakfak sejak 1984.
Senang mengetahui anda masih mengingat kota Fakfak yg pada Nopember 2008 sudah berusia 108 tahun.
Sudah 3 orang Bupati sejak Bupati Sukamto (bukan Sugiarto).
Tembagapura sekarang menjadi wilayah Kabupaten Mimika dgn ibukota Timika sejak 1999.
Dari Jakarta ke Fakfak sekarang dapat dgn penerbangan langsung via Ambon seminggu 2 kali dengan Lion/Wings Air. Atau via Sorong dengan Merpati Air.
Salam, Andrew

Posted by: Andrew | 01/10/2009

Sayangnya tulisan begini tidak ada yang up date yah. Sekarang Bupatinya saya dengar bernama Bpk Wahidin Puarada. Dan sesuai perkembangan jaman, sudah mengembangkan berbagai usaha dengan visi mensejahterakan warga dan pemberdayaan masyarakat.

Sayang loh, aku di Jakarta cerita dengan rekan lain juga gak tahu Fakfak itu di mana, apalagi Fak fak itu who, where, when and how.

Lihat gambar sih OK banget: ikan bakar, durian, lautnya indah, katanya kerukunan beragama juga sangat OK (walaupun ada berita miringnya yah>

Salam aja dari Jakarta

Posted by: xaverius | 09/10/2009

Lho si penulis kan hanya menuliskan catatan perjalanannya beberapa puluh tahun yang lalu. Jadi memang tidak bisa diharapkan mencakup semua aspek, dan tidak mungkin uptodate. Saya kira setiap blog pribadi akan begitu. Kalau mau lengkap mestinya yang diasuh oleh Pemda Fakfak sendiri. (Ada gak ya?)
Sayang sekali kalau ada orang Indonesia yang tidak tahu dimana letak Fakfak, padahal di perpustakaan pasti ada peta Indonesia yang mempunyai indeks. Di Gramedia juga kita bisa ngintip, gak usah beli.

Posted by: Bambang | 09/17/2009

Post a comment