10/11/2008
Sukabumi : Paksi, kelompok pecinta alam
Di Sukabumi, sekitar tahun 1972, saya masuk kelompok pecinta alam yang bernama Paksi. Dalam istilah yang lebih mudah : kelompok pendaki gunung. Salah satu pengurus kelompok ini bernama Iwan, yang adalah putra Bupati Anwari. Pantaslah kalau Paksi mendapat tempat di lingkungan pendopo untuk sekertariatnya. Rapat anggota biasanya diselenggarakan di sebuah taman kanak-kanak,yang terletak di pendopo juga. Secara fisik, kami merasa tidak nyaman karena para anggota (yang sudah SMA ke atas) harus duduk di kursi anak TK. Tapi kami nikmati saja.
Latihan fisik dan berbagai permainan kami lakukan di lapang rumput di depan pendopo. Salah satu permainan yang kami lakukan adalah limbo, yaitu berjalan melewati batang kayu yang dipasang melintang dengan ketinggian 1,5 meter atau lebih rendah lagi, tapi tidak boleh membungkuk. Jadi, badan harus ditekuk kebelakang. Di tempat lain mungkin syair lagu yang dibawakan adalah “how low can you go”. Tapi waktu itu kami menyanyikan syair seperti berikut (entah apa artinya).
wa iya … wa iya fidunya wa iya
al jafar … aljafar habibi furqon
waiyaaaaaaa …
waiyaaaaaaa …
fidunya waiya
<>
Latihan dasar dilakukan di Situ Gunung, Cisaat. Pelepasan para peserta dilakukan di sisi Utara Lapang Merdeka, di depan BPU. Disaksikan oleh orang tua peserta. Saya tidak tahu mengapa harus didramatisir seperti itu. Ibu saya yang hadir pada pagi itu mengkritik, kenapa acara itu disebut “pelepasan”, yang menurut dia artinya “dubur”.
Para peserta, yang masing-masing membawa ransel, diangkut dengan truk militer ke Cisaat. Di simpangan jalan menuju Situ Gunung, kami drop, lalu disuruh berjalan kaki sekitar tujuh kilo meter, menuju ke Situ Gunung. Sebenarnya jarak itu bisa saya lalui dengan mudah, tapi ransel-perlengkapan-sepatu tentara yang total beratnya lebih dari 20 kilo membuat perjalanan sangat menyiksa.
Setiba di tepi Situ Gunung, kami langsung disuruh membuat tenda dengan ponco yang dibawa setiap peserta. Satu tenda diisi oleh satu regu yang terdiri dari tiga orang. Saya dipasangkan dengan satu orang pelajar SMAK yang tinggal di asrama Bunut, dan seorang karyawan.
<>
Dari pagi sampai sore para peserta diberi latihan fisik. Berlari, senam, lompat-lompat, push-up, sit-up, berjalan sambil jongkok,
Peserta yang melakukan kesalahan (seperti terlambat hadir dalam apel) akan diberi hukuman push-up. Kalau pelatih menyebut satu seri artinya peserta harus melakukan push-up sebanyak sepuluh kali. Tergantung dari berat-ringan kesalahannya, bisa saja hukumannya lebih dari satu seri.
Pelajaran menuruni tebing dengan tali sangat menarik. Yang standar adalah yang menggunakan snap-ring dan tali. Tapi kalau tebing tidak begitu curam, tali bisa dilingkarkan di paha kanan untuk menahan berat badan. Satu ujung tali diikat di pohon di atas tebing, satu ujung lagi dipegang oleh tangan kanan. Dengan punggung menghadap ke bawah, tangan kanan melonggarkan dan mengeratkan pegangannya sehingga badan sedikit demi sedikit turun ke bawah. Orang yang sudah ahli dapat melakukannya dengan indah sekali.
Pada cara menuruni tebing yang ketiga, tali dilingkarkan pada punggung. Satu ujung tali diikat pada pohon di atas tebing, satu ujung lagi dipegang oleh tangan kanan dengan posisi di sekitar ketiak kanan. Waktu menuruni tebing, sisi kanan tubuhlah yang menghadap ke bawah. Badan harus tegak lurus pada permukaan tebing. Pegangan tangan kanan di longgar-ketatkan sehingga tubuh sedikit demi sedikit bergeser turun.
Malam hari diisi dengan pelajaran teori. Ini dilaksanakan di satu bangunan di sekitar situ. Di antaranya adalah tentang bagaimana mendaki gunung dengan aman, cara memilih jalur perjalanan yang aman, cara membaca kompas dan peta, cara menetukan arah kalau tidak ada kompas, cara memilih tempat untuk kemah (bivak), cara-cara survival, cara-cara melakukan SAR.
Selesai pelajaran teori, tiap malam kami bernyanyi lagu-lagu khas pendaki gunung. Salah satu lagu yang saya ingat adalah Balada Seorang Kelana yang mempunyai penggalan syair sebagai berikut.
……..
Dingin, hening dan sepi
Di daun angin berbisik
Hai kelana tabahkan hatimu
Tuhan slalu bersamu
Ku berjalan penuh tekad
Untuk nusa dan bangsa …..
Lagu tersebut dikarang oleh Iwan Abdurachman yang waktu itu masih bergabung dengan Bimbo. Iwan yang namanya terangkat oleh lagunya yang berjudul “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyan”, waktu itu menjadi idola para pendaki gunung. Bahkan, sebenarnya dialah yang mendorong banyak pemuda untuk menjadi pendaki gunung. Menjadi pendaki gunung, memetik gitar dan bernyanyi adalah impian banyak pemuda pada waktu itu.
<>
Setelah beberapa hari, materi untuk Situ Gunung habis. Lalu rombongan dibawa lebih tinggi lagi di punggung Gunung Pangranggo itu. Untuk memimpin pendakian tersebut, dari Bandung didatangkan seorang anggota Wanadri yang bernama Remy. Kelompok Wanadri, dimana salah satu tokohnya adalah Iwan Abdurachman, merupakan benchmark bagi kelompok pencinta alam yang tumbuh di berbagai kota pada waktu itu.
Perjalanan naik mengikuti jalur yang sudah ada. Meliuk-liuk mengikuti kontur kaki gunung. Di satu tempat yang agak datar kami berhenti. Di antara pohon sebesar tubuh orang dewasa, kami membuat tenda. Tenda dibuat sedemikian sehingga bisa menampung air hujan, yang akan dipakai untuk minum dan menanak nasi.
Besoknya kami bergerak turun melalui jalur baru. Rumpun-rumpun yang menghalangi ditebas dengan golok oleh orang yang berjalan paling depan. Ketika menemukan tebing, kami turuni dengan menggunakan tali.
<>
Seperti juga upacara pelepasan, upacara pembubaran latihan dilakukan di sisi Utara Lapang Merdeka. Ibu saya datang lagi. Tapi dia pulang ke rumah naik delman, sedangkan saya berjalan kaki terpincang-pincang. Sepatu bot pinjaman telah membuat kuku jempol kaki kiri terkelupas. Sampai sekarang kuku yang itu belum sembuh betul.
<>
Kegiatan seperti ini membuat kami kenal dengan pemuda-pemuda sebaya dari berbagai sekolah dan bahkan denganmereka yang sudah bekerja. Saya yang sekolah di SMA Mardi Yuana, bisa bertemu dengan pelajar SMAK, STM Inka, seorang karyawan PN Barata (yang ternyata adalah kakaknya Yaya Purbaya, teman saya di SMP Negeri 1). Ini benar-benar menyatukan pemuda-pemuda secara lintas suku, lintas agama, lintas sekolah, lintas tingkat sosial-ekonomi.
20:02 Posted in Sukabumi | Permalink | Comments (2) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: paksi, pecinta alam, wanadri




Trackbacks
The URL to Trackback this post is: http://startfromsprouts.blogspirit.com/trackback/1646169
Comments
ka2k tau lagu tragedi desember g'?
Posted by: carin | 10/13/2009
Kayaknya gak pernah denger. Siapa yang nyanyi? Coba saja di-search. Siapa tahu ada di You-tube.
Posted by: Bambang | 10/16/2009
Post a comment