05/24/2009

Sukabumi: Demam Hwa Hwe


Ini terjadi pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, masyarakat Sukabumi dilanda demam judi Hwa Hwe. Mekanisme judi Hwa Hwe adalah sebagai berikut.
Seseorang yang bertindak sebagai bandar, biasa dipanggil taypak, menulis sebuah nomor pada secarik kertas. Nomor tersebut diambil dari angka-angka antara 1 sampai 99. Kertas tersebut lalu dimasukkan ke dalam sebuah kotak, lalu kotak tersebut dikerek seperti mengerek sangkar burung pada sebuah tiang bambu. Orang banyak bisa menyaksikan bahwa kotak tersebut selama seminggu tidak pernah diturunkan dari tiangnya, jangan pula dibuka. Jadi nomor terebut tidak pernah diubah oleh taypak, sampai diturunkan.
Nomor tersebut hanya diketahui oleh taypak seorang. Peserta judi dipersilahkan menebak angka tersebut. Kalau tebakannya tepat, maka taypak akan membayar peserta tersebut sepuluh kali lipat (kalau tidak salah) dari uang yang dipasangnya.
Taypak biasanya membuat gambar-gambar yang dapat menjadi petunjuk (clue) bagi peserta, mengenai angka yang di dalam kotak tersebut. Misalnya, taypak menggambar dua pistol di atas kertas A4. Orang bisa menafsirkan gambar dua pistol itu sebagai representasi nomor 77, karena bentuk pistol menyerupai angka 7. Atau bisa juga ditafsirkan sebagai nomor 66 karena isi peluru dalam pistol Colt adalah 6.
Kalau orang sudah cukup yakin dengan tebakannya, dia bisa mengisi formulir dan membayar uang pasangannya pada agen Hwa Hwe yang tersebar di seluruh wilayah kota Sukabumi.
Ada istilah “dimistik”, yang artinya angka 7 belum tentu berarti angka 7. Bisa saja yang dimaksud dalam kode tersebut adalah angka 4. Jadi kalau tafsiran atas kode dari taypak menghasilkan nomor 77, bisa jadi yang dimaksud taypak adalah nomor 44. Aturannya begini, angka 2 bisa dimistik menjadi 5, 3 jadi 8, 4 jadi 7, dan 6 jadi 9. Aturan ini berlaku juga sebaliknya. Jadi 4 bisa jadi 7 dan seterusnya.
Ada juga istilah “rihting”, seperti sebutan pada lampu sen pada kendaraan. Jadi kalau sudah dapat nomor 77, sebaiknya dipasangi juga angka 76 (rihting kiri), dan 78 (rihting kanan).
Gerak-gerik taypak juga bisa menjadi petunjuk tentang angka di dalam kotak itu. Kalau taypak mengupil di depan orang banyak, bisa ditafsirkan dia sedang menggambarkan nomor 10, karena jari telunjuk dianggap angka 1, dan lubang hidung satu lagi dianggap angka 0.
Selain kode dan petunjuk yang dikeluarkan oleh taypak, orang-orang juga berusaha sendiri mencari tahu lewat dukun, “orang pintar”, orang gila atau lewat mimpi. Sering kali petunjuk dari mereka juga tidak straightforward sebuah nomor, tapi tetap merupakan kode. Dengan demikian, meja kerja dan dinding rumah seorang agen Hwa Hwe akan dipenuhi oleh kertas yang berisi gambar kode-kode dari berbagai sumber.
Yang orang-orang kerjakan sepanjang hari dan sepanjang minggu, di rumah dan di kantor, adalah memandangi kode-kode tersebut. Berharap mendapat inspirasi tentang nomor yang akan keluar. Berharap memperoleh tambahan uang untuk menopang kebutuhan sehari-hari.
Tibalah akhir pekan, orang berkerumun di depan rumah taypak, di Jl. Palabuhan Ratu, dekat Toko Tjeng. Kotak diturunkan, lalu secarik kertas itu dilihat isinya. Ada yang senang karena angka yang dipasangnya cocok, ada juga yang kecewa karena usaha dan dana yang sudah dikeluarkan ternyata hanya sia-sia. Harapan yang menggelembung besar karena begitu yakin nomor yang diperolehnya dari dukun sakti akan menang, pada hari itu meletus seperti balon tertusuk jarum, menyisakan kekecewaan yang mendalam. Beberapa orang bisa menjadi gila, dan kalau itu yang terjadi, bertambahlah orang yang bisa ditanya mengenai kode Hwa Hwe.
Ada istilah “ka laut” yang artinya nomor yang dipasanginya gagal, seperti layaknya sampah yang dibawa sungai, terapung mengalir menuju ke laut. Persis seperti waktu orang-orang yang terbuang untuk mempelototi gambar-gambar kode yang mereka peroleh dari orang gila dan pemimpi.

Trackbacks

The URL to Trackback this post is: http://startfromsprouts.blogspirit.com/trackback/1760843

Comments

keren, kang bambang.. keren. dimistik? huahahaha. keren.

Posted by: hardy hermawan | 10/03/2009

Post a comment