06/06/2009
Palu - Poso - Tentena, circa 1980
Sekitar tahun 1980, saya harus ke Poso untuk urusan pekerjaan. Naik pesawat besar sampai ke Palu. Di Pelud Mutiara ketemu anak Tambang (angkatan 72, namanya Adi ?, Wanadri ?sekarang sudah meninggal ) yang juga mau ke Poso. Dari Palu ke Poso, naik Twin Otter. Tadinya saya pikir mendarat darurat di lapang sepak bola, ternyata memang runway-nya hanya pakai rumput. Kesan saya waktu itu, Poso kotanya tenang. Orang tidak saling curiga : saya menelepon salah sambung, tapi akhirnya jadi ngobrol lama dan becanda. Ada mahasiswa dari Unsrat Manado sedang KKN, enak saja ngobrol. Angkutan kotanya tidak punya rute pasti. Saya diantar sampai pintu hotel. Penumpang yang lain pun diantar sampai pintu rumahya. Benar-benar door-to-door service. Tapi bukan taksi, karena banyak penumpang yang naik sama-sama. <> Rekreasi ke Danau Poso. Lewat jembatan yang beratap. Di tepi danau ada kota Tentena. Hotel menyajikan ikan bakar disiram kecap bercampur potongan cabai dan bawang. Teman saya Damanik, memakan kepala ikan sampai habis. Tak pernah terbayang, 25 tahun sesudah itu ada bom meledak di tengah pasar Tentena menewaskan 20 orang. <> Sebelum pulang, ngobrol dengan Achmad, Kepala Pelabuhan Udara Kasiguncu Poso. Dia bilang : "Yang paling berat ditangani polisi paling perkara kawin lari." Tambahnya :"Orang disini saling kenal. Mungkin suratpun tidak usah pakai alamat lengkap." Mungkin Pk Achmad melebih-lebihkan, tapi saya tetap tidak percaya orang Poso saling membunuh, kenal atau tidak kenal. BSet (Dikirim ke milis ITB74, 29 Mei 2005)
20:25 Permalink | Comments (0) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: palu, poso, tentena




Trackbacks
The URL to Trackback this post is: http://startfromsprouts.blogspirit.com/trackback/1773259
Post a comment