<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<?xml-stylesheet title="XSL formatting" type="text/xsl" href="/atom.xsl" ?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="en">
<title>There Are Places I Remember</title>
<link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://startfromsprouts.blogspirit.com/atom.xml"/>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://startfromsprouts.blogspirit.com/" />
<subtitle>My Travel Log and My Notes on Persons That I Met</subtitle>
<updated>2009-06-06T20:40:18+07:00</updated>
<rights>All Rights Reserved blogSpirit</rights>
<generator uri="http://www.blogspirit.com/" version="6.0">blogSpirit</generator>
<id>http://startfromsprouts.blogspirit.com/</id>
<entry>
<author>
<name>BSet</name>
<uri>http://startfromsprouts.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>Palu - Poso - Tentena, circa 1980</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://startfromsprouts.blogspirit.com/archive/2009/06/06/palu-poso-tentena-circa-1980.html" />
<id>tag:startfromsprouts.blogspirit.com,2009-06-06:1773259</id>
<updated>2009-06-06T20:40:18+07:00</updated>
<published>2009-06-06T20:25:00+07:00</published>
<category term="palu" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="poso" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="tentena" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<summary>  Sekitar tahun 1980, saya harus ke Poso untuk urusan pekerjaan. Naik pesawat...</summary>
<content type="html" xml:base="http://startfromsprouts.blogspirit.com/">
&lt;p&gt;Sekitar tahun 1980, saya harus ke Poso untuk urusan pekerjaan. Naik pesawat besar sampai ke Palu. Di Pelud Mutiara ketemu anak Tambang (angkatan 72, namanya Adi ?, Wanadri ?sekarang sudah meninggal ) yang juga mau ke Poso. Dari Palu ke Poso, naik Twin Otter. Tadinya saya pikir mendarat darurat di lapang sepak bola, ternyata memang runway-nya hanya pakai rumput. Kesan saya waktu itu, Poso kotanya tenang. Orang tidak saling curiga : saya menelepon salah sambung, tapi akhirnya jadi ngobrol lama dan becanda. Ada mahasiswa dari Unsrat Manado sedang KKN, enak saja ngobrol. Angkutan kotanya tidak punya rute pasti. Saya diantar sampai pintu hotel. Penumpang yang lain pun diantar sampai pintu rumahya. Benar-benar door-to-door service. Tapi bukan taksi, karena banyak penumpang yang naik sama-sama. &amp;lt;&amp;gt; Rekreasi ke Danau Poso. Lewat jembatan yang beratap. Di tepi danau ada kota Tentena. Hotel menyajikan ikan bakar disiram kecap bercampur potongan cabai dan bawang. Teman saya Damanik, memakan kepala ikan sampai habis. Tak pernah terbayang, 25 tahun sesudah itu ada bom meledak di tengah pasar Tentena menewaskan 20 orang. &amp;lt;&amp;gt; Sebelum pulang, ngobrol dengan Achmad, Kepala Pelabuhan Udara Kasiguncu Poso. Dia bilang : &quot;Yang paling berat ditangani polisi paling perkara kawin lari.&quot; Tambahnya :&quot;Orang disini saling kenal. Mungkin suratpun tidak usah pakai alamat lengkap.&quot; Mungkin Pk Achmad melebih-lebihkan, tapi saya tetap tidak percaya orang Poso saling membunuh, kenal atau tidak kenal. BSet (Dikirim ke milis ITB74, 29 Mei 2005)&lt;/p&gt; 
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>BSet</name>
<uri>http://startfromsprouts.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>Decent places for hanging-out in Bandung</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://startfromsprouts.blogspirit.com/archive/2009/05/31/decent-places-for-hanging-out-in-bandung.html" />
<id>tag:startfromsprouts.blogspirit.com,2009-05-31:1764252</id>
<updated>2009-05-31T10:29:41+07:00</updated>
<published>2009-05-31T10:27:00+07:00</published>
<category term="Bandung" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<category term="coffee shop" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="hans verhoef" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="bandung" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<summary>    Decent places for hanging-out in Bandung magnify  Sekitar sepuluh tahun...</summary>
<content type="html" xml:base="http://startfromsprouts.blogspirit.com/">
&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Decent places for hanging-out in Bandung magnify&lt;br /&gt; Sekitar sepuluh tahun yang lalu saya mengantar Hans Verhoef, orang Belanda, ke Bandung untuk suatu keperluan. Dia bertanya dimana di Bandung, dosen-dosen biasa nangkring untuk ngobrol. Otak saya langsung searching. Karena dia datang dari budaya Eropa, jadi dalam bayangan saya dia itu sedang mencari semacam cafe, tavern, club, coffee-shop, bar atau tempat apa pun namanya, dimana orang bisa datang untuk minum (bir, kopi dll) sambil ngobrol. Ketika searching dalam kepala, saya skip tempat-tempat favorit anak muda, karena biasanya lebih banyak musik hingar-bingarnya. Dosen kan kebayangnya sudah berumur, serius, dan ngobrolnya lebih berbobot.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Search result : We did not find result for such place.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Akhirnya saya bawa ke ITB, untung mobil bisa masuk ke kampus. Kelalang keliling ... sambil bilang : &quot;Inilah tempat dosen bekerja.&quot;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Lalu saya bawa dia ke Dago Tea House. Tempat ini kan ada di sekitar kampus Pertanian Unpad, dan dalam kompleks rumah-rumah dosen. Siapa tahu ada dosen lagi nangkring. Minimal, saya bisa memperlihatkan Bandung dilihat dari tempat ketinggian, di waktu malam. Eh ternyata pemandangannya pun terhalang oleh backdrop panggung pertunjukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sekarang pun, setelah sepuluh tahun berlalu, saya tetap belum tahu kalau ada tempat semacam itu di Bandung. Sorry Hans (may you rest in peace) I am not sure if such place exists in Bandung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &amp;lt;&amp;lt;&amp;lt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mazhar Iqbal kelahiran Pakistan yang menetap di Inggeris cerita bahwa orang Inggeris tidak akan mengundang temennya ke rumah. (Mungkin rumahnya berantakan, karena seminggu belum nyuci baju. Atau istrinya judes pada tamu.) Lagi pula rumah mereka terletak jauh di sub-urban, bisa-bisa temennya baru sampai di rumah sendiri besok paginya (kalau kereta api masih ada). Jadi, setelah jam kantor, mereka bertemu dan ngobrol dengan teman di tempat yang netral : tavern. Kayaknya di Jepang juga begitu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bagaimana di Indonesia ? Kayaknya di Indonesia kebanyakan para suami kalau pulang langsung ke rumah, tidak singgah-singgah dulu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &amp;lt;&amp;lt;&amp;lt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Beberapa hari yang lalu saya lihat ada artikel di Kompas mengenai tempat minum kopi di Bandung yang enak di Banceuy. Mungkin yang seperti ini bisa menjadi decent place for hanging-out. Kebanyakan orang Indonesia tidak minum bir, jadi tempat yang menyajikan kopi atau teh mestinya jadi pilihan bagus untuk nangkring bagi kebanyakan orang. Dari istilahnya saja kita sudah punya : warung kopi, tapi kok yang beken malah Star Buck dan Coffee Bean and Tea Leaf. Okelah ...di Jakarta ada Warung Kopi Toraja dan Tea Addict yang kayaknya lokal. Jadi yang di bandung mesti dijajal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kopi yang paling mahal yang pernah saya minum adalah sekitar Rp 30.000, untung teman saya yang bayar. Kalau belinya satu cangkir dan ngobrolnya satu jam, cukuplah harga itu ...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; (Dikirim ke milis ITB, 13 Maret 2006)&lt;/p&gt; 
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>BSet</name>
<uri>http://startfromsprouts.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>Sukabumi: Demam Hwa Hwe</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://startfromsprouts.blogspirit.com/archive/2009/05/24/sukabumi-demam-hwa-hwe.html" />
<id>tag:startfromsprouts.blogspirit.com,2009-05-24:1760843</id>
<updated>2009-05-24T18:42:22+07:00</updated>
<published>2009-05-24T18:42:22+07:00</published>
<category term="Sukabumi" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<category term="hwa hwe" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="taypak" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="mistik" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="ka laut" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<summary>    Ini terjadi pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, masyarakat...</summary>
<content type="html" xml:base="http://startfromsprouts.blogspirit.com/">
&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Ini terjadi pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, masyarakat Sukabumi dilanda demam judi Hwa Hwe. Mekanisme judi Hwa Hwe adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt; Seseorang yang bertindak sebagai bandar, biasa dipanggil taypak, menulis sebuah nomor pada secarik kertas. Nomor tersebut diambil dari angka-angka antara 1 sampai 99. Kertas tersebut lalu dimasukkan ke dalam sebuah kotak, lalu kotak tersebut dikerek seperti mengerek sangkar burung pada sebuah tiang bambu. Orang banyak bisa menyaksikan bahwa kotak tersebut selama seminggu tidak pernah diturunkan dari tiangnya, jangan pula dibuka. Jadi nomor terebut tidak pernah diubah oleh taypak, sampai diturunkan.&lt;br /&gt; Nomor tersebut hanya diketahui oleh taypak seorang. Peserta judi dipersilahkan menebak angka tersebut. Kalau tebakannya tepat, maka taypak akan membayar peserta tersebut sepuluh kali lipat (kalau tidak salah) dari uang yang dipasangnya.&lt;br /&gt; Taypak biasanya membuat gambar-gambar yang dapat menjadi petunjuk (clue) bagi peserta, mengenai angka yang di dalam kotak tersebut. Misalnya, taypak menggambar dua pistol di atas kertas A4. Orang bisa menafsirkan gambar dua pistol itu sebagai representasi nomor 77, karena bentuk pistol menyerupai angka 7. Atau bisa juga ditafsirkan sebagai nomor 66 karena isi peluru dalam pistol Colt adalah 6.&lt;br /&gt; Kalau orang sudah cukup yakin dengan tebakannya, dia bisa mengisi formulir dan membayar uang pasangannya pada agen Hwa Hwe yang tersebar di seluruh wilayah kota Sukabumi.&lt;br /&gt; Ada istilah “dimistik”, yang artinya angka 7 belum tentu berarti angka 7. Bisa saja yang dimaksud dalam kode tersebut adalah angka 4. Jadi kalau tafsiran atas kode dari taypak menghasilkan nomor 77, bisa jadi yang dimaksud taypak adalah nomor 44. Aturannya begini, angka 2 bisa dimistik menjadi 5, 3 jadi 8, 4 jadi 7, dan 6 jadi 9. Aturan ini berlaku juga sebaliknya. Jadi 4 bisa jadi 7 dan seterusnya.&lt;br /&gt; Ada juga istilah “rihting”, seperti sebutan pada lampu sen pada kendaraan. Jadi kalau sudah dapat nomor 77, sebaiknya dipasangi juga angka 76 (rihting kiri), dan 78 (rihting kanan).&lt;br /&gt; Gerak-gerik taypak juga bisa menjadi petunjuk tentang angka di dalam kotak itu. Kalau taypak mengupil di depan orang banyak, bisa ditafsirkan dia sedang menggambarkan nomor 10, karena jari telunjuk dianggap angka 1, dan lubang hidung satu lagi dianggap angka 0.&lt;br /&gt; Selain kode dan petunjuk yang dikeluarkan oleh taypak, orang-orang juga berusaha sendiri mencari tahu lewat dukun, “orang pintar”, orang gila atau lewat mimpi. Sering kali petunjuk dari mereka juga tidak straightforward sebuah nomor, tapi tetap merupakan kode. Dengan demikian, meja kerja dan dinding rumah seorang agen Hwa Hwe akan dipenuhi oleh kertas yang berisi gambar kode-kode dari berbagai sumber.&lt;br /&gt; Yang orang-orang kerjakan sepanjang hari dan sepanjang minggu, di rumah dan di kantor, adalah memandangi kode-kode tersebut. Berharap mendapat inspirasi tentang nomor yang akan keluar. Berharap memperoleh tambahan uang untuk menopang kebutuhan sehari-hari.&lt;br /&gt; Tibalah akhir pekan, orang berkerumun di depan rumah taypak, di Jl. Palabuhan Ratu, dekat Toko Tjeng. Kotak diturunkan, lalu secarik kertas itu dilihat isinya. Ada yang senang karena angka yang dipasangnya cocok, ada juga yang kecewa karena usaha dan dana yang sudah dikeluarkan ternyata hanya sia-sia. Harapan yang menggelembung besar karena begitu yakin nomor yang diperolehnya dari dukun sakti akan menang, pada hari itu meletus seperti balon tertusuk jarum, menyisakan kekecewaan yang mendalam. Beberapa orang bisa menjadi gila, dan kalau itu yang terjadi, bertambahlah orang yang bisa ditanya mengenai kode Hwa Hwe.&lt;br /&gt; Ada istilah “ka laut” yang artinya nomor yang dipasanginya gagal, seperti layaknya sampah yang dibawa sungai, terapung mengalir menuju ke laut. Persis seperti waktu orang-orang yang terbuang untuk mempelototi gambar-gambar kode yang mereka peroleh dari orang gila dan pemimpi.&lt;/p&gt; 
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>BSet</name>
<uri>http://startfromsprouts.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>Dulu nonton dimana ?</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://startfromsprouts.blogspirit.com/archive/2009/05/02/dulu-nonton-dimana.html" />
<id>tag:startfromsprouts.blogspirit.com,2009-05-02:1749545</id>
<updated>2009-05-31T10:30:16+07:00</updated>
<published>2009-05-02T13:45:00+07:00</published>
<category term="Bandung" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<category term="bioskop" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="film" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="bandung" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<summary>    Intermeso dulu ... jangan serius terus... weekend nih.    Zaman kita...</summary>
<content type="html" xml:base="http://startfromsprouts.blogspirit.com/">
&lt;p&gt;&lt;br /&gt; Intermeso dulu ... jangan serius terus... weekend nih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Zaman kita mahasiswa belum ada Group 21. Jadi kualitas bioskop lebih bervariasi, kita bisa pilih yang seusai dengan kemampuan kantong.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; LFM &amp;lt;&amp;gt; Ini jualannya Ceppie (TI74) yang waktu itu jadi Ketua LFM (Liga Film Mahasiswa). Selera film pilihannya bagus. Saya disini nonton Midnight Cowboy (John Voight dan Dustin Hoffman) dan James Bond (lupa yang mana). Atau yang science fiction seperti film-film Isaac Assimov. Lucu karena selain kursi juga ada mejanya, maklum tempat belajar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Braga Sky &amp;lt;&amp;gt; Bioskopnya ada di atas jadi harus naik pakai tangga sempit. Filmnya juga lumayan. Saya disini nonton Lady L (Sophia Loren dan Paul Newman), The Champ (John Voight), Reincarnation (Michael Sarazin), Kramer vs Kramer (Dustin Hoffman), Somewhere in Time (Christoper Reeves dan Jane Seymour). Sekarang Braga Sky jadi Diskotik Star Dust (atau Xanadu ?).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Panti Karya &amp;lt;&amp;gt; Ini anak perusahaan PJKA. Juga lumayan. Saya disini nonton The Graduate (Dustin Hoffman) dan North by North West (Hitchcock).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mayestik &amp;lt;&amp;gt; Di Jl. Braga dekat Gedung Asia Afrika. Suka ada calo. Saya nonton New York - New York di sini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Panti Budaya &amp;lt;&amp;gt; Di Jl. Merdeka di seberang Kantor Polisi. Tempatnya lumayan. Sayang susah parkir, walaupun kita cuma bawa motor. Sekarang sudah jadi taman. Disini saya nonton Three Days of Condor (Robert Redford).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; POP &amp;lt;&amp;gt; Letaknya di Jl. Braga, di depan bioskop President. Di bawahnya ada tempat Bilyar. Ada anak ITB yang sering main bilyar disini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tabungan Pos &amp;lt;&amp;gt; di Jl. Jawa. Salah satu bidang usaha BTN 'kali. Saya pernah nonton Godfather (Marlon Brando)disini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bandung Theatre &amp;lt;&amp;gt; Di Kosambi. Kalau tidak salah ini dikelola oleh yang namanya Ir. Chand Parwez (anak ITB?).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Di sekitar Alun-alun ada beberapa bioskop. Dian (Ibu saya ngotot, namanya Radio City), Elite, dan Nusantara (saya pernah nonton Oranje Soldaat disini).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ada jenis bioskop yang lebih murah lagi, yang disebut taman. Kualitasnya antara misbar (bisa melihat bintang) dan bioskop normal. Misalnya Taman Silihwangi (Astanaanyar), Bison (Pasirkaliki), atau Hegar (Supratman). Taman Silihwangi letaknya dekat sungai, airnya sering meluap masuk ke bioskop dan menghanyutkan sandal-sandal yang dilepas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Itu adalah bioskop-bioskop papan bawah, jangan harap bioskop-bioskop itu sekarang masih ada disana. Yang papan atas adalah seperti di bawah, inipun mungkin sudah terpukul Kelompok 21.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Paramount (atau &quot;pa ramon&quot;, menurut pronounciation orang lokal, artinya bapana si Ramon) &amp;lt;&amp;gt; Muncul belakangan. Tapi sekarang sudah tutup lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; President &amp;lt;&amp;gt; Di Jl. Braga dekat Jl. Kereta Api. Saya nonton Gone With the Wind disini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Anda nonton di mana ? Sama siapa ? Have a nice weekend.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; BSet&lt;br /&gt; (Dikirim ke milis ITB74, 9 Mei 2003)&lt;/p&gt; 
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>BSet</name>
<uri>http://startfromsprouts.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>Nijmegen : makan panekuk di dekat perbatasan Jerman</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://startfromsprouts.blogspirit.com/archive/2009/04/05/nijmegen-makan-panekuk-di-dekat-perbatasan-jerman.html" />
<id>tag:startfromsprouts.blogspirit.com,2009-04-05:1736624</id>
<updated>2009-04-10T14:02:04+07:00</updated>
<published>2009-04-05T20:42:00+07:00</published>
<category term="Belanda" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<category term="pannekoek" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="pancake" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<summary> Saya pernah diajak makan pannekoek di negeri asalnya (Holland), oleh seorang...</summary>
<content type="html" xml:base="http://startfromsprouts.blogspirit.com/">
Saya pernah diajak makan pannekoek di negeri asalnya (Holland), oleh seorang kenalan yang bernama Ron Verleg. Restoran itu khusus menyediakan berbagai macam pannekoek : isi keju, apel, nenas dll. Lokasinya di Nijmegen, provinsi Gelderland, agak di luar kota. Hari itu hari libur jadi restorannya penuh sekali. Pannekoek di Indonesia jadi panekuk, di Inggeris jadi pancake&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di restoran ini ada sebuah menara. Jika kita naik ke menara ini kita bisa melihat Jerman. Seperti diketahui, Jerman dan Belanda mempunyai perbatasan darat bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Nijmegen sendiri ada atraksi khusus sehubungan dengan pannekoek, cerita si Ron. Katanya, di sungai Waal ada perahu besar yang juga berfungsi sebagai restoran. Disitu juga disuguhkan pannekoek. Jadi sambil menikmati pemandangan sungai dan sekitarnya, kita menikmati pannekoek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rasanya ada anggota group Shocking Blue yang namanya van der Waal. Atau nama salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bercerita begitu si Ron menunjuk ke dinding satu toko di pinggir jalan, yang kebetulan ada di pinggir sungai Waal itu. Di dinding itu ada plakat peringatan bahwa sungai Waal pernah banjir, dan oleh plakat itu ditunjukan tinggi permukaan air waktu banjir itu. Sungai Waal ini sungai yang melalui beberapa negara, di antaranya Jerman. Tapi di Jerman disebutnya Sungai Rhine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah terpikir bikin restoran terapung di Sungai Ciliwung. Makanannya ubi Cilembu, pisang rebus, kacang rebus, bandrek, bajigur. Tapi kalau lagi makan pisang rebus, sebaiknya di pinggir sungai jangan ada orang buang air besar.
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>BSet</name>
<uri>http://startfromsprouts.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>Nyi Rokhani - Sinden Beling</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://startfromsprouts.blogspirit.com/archive/2009/03/03/si-rokhani.html" />
<id>tag:startfromsprouts.blogspirit.com,2009-03-03:1718957</id>
<updated>2009-03-17T23:02:51+07:00</updated>
<published>2009-03-03T09:04:00+07:00</published>
<category term="Sukabumi" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<category term="rokhani" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="recycle" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="sinden" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<category term="beling" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#tag" />
<summary> Sukabumi, pertengahan dekade 1960-an. Ada seorang perempuan tengah baya yang...</summary>
<content type="html" xml:base="http://startfromsprouts.blogspirit.com/">
Sukabumi, pertengahan dekade 1960-an. Ada seorang perempuan tengah baya yang dikenal dengan nama Nyi Rokhani. Tubuhnya tinggi untuk ukuran perempuan, tapi langsing dan kokoh. Biasanya memakai kebaya dan kain batik sebetis. Kulitnya hitam karena terpanggang matahari. Tulang pipi menonjol, mungkin alami atau karena gigi sudah banyak tanggal. Sanggulnya yang sederhana, cukup rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang biasa dia lakukan adalah mencari dan memungut beling untuk dijual lagi. Yang menarik adalah jika ada yang memberi dia botol, atau kaca dalam ukuran yang agak besar, dia akan menyanyi seperti sinden, sebagai imbalan untuk pemberinya. Dia bernyanyi sambil jongkok menghadap kliennya yang duduk di ambang pintu rumahnya. Anak-anak tetangga berdiri di belakang Nyi Rokhani, ikut mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya bagus, mirip Titim Fatimah. Ada powernya, sehingga terdengar keras walaupun tidak memakai mike. Tanpa iringan instrumen apapun, tetap atraktif. Dan ... improvisasinya itu yang sulit ditandingi oleh sinden atau penyanyi jazz muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyanyi dengan penuh percaya diri seperti profesional, sehingga nada-nada pentatonisnya tidak meleset. Sekarang saya bertanya-tanya, kenapa dengan kualitas seperti itu, kenapa dia tidak ikut grup kesenian. Apakah karena dia sudah terlalu tua untuk dipajang di panggung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau diperhatikan betul mukanya, saya tidak melihat ekspresi gembira yang biasa terpancar dari wajah seorang entertainer. Mungkinkah dia menyembunyikan sesuatu? Pengalaman yang menggetirkan mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu-lagunya adalah lagu berbahasa daerah yang sedang populer pada waktu itu. Misalnya : Ekek Paeh, Alim Dicandung, Petis Kupa, Agus Huleng Jentul, Dikantun Tugas dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini beberapa syair lagu yang masih teringat.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Kerak da lain, japati belang jangjangna&lt;br /&gt;Nalak ge lain, lamun mindeng dianjangan&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Petis kupa jeung jatake, sihoreng mah ... sihoreng mah ... cereme leuweung&lt;br /&gt;Alus rupa hade hate, sihoreng mah ... sihoreng mah ... bebene deungeun&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Atau&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Agus huleng jentul ... na kunaon&lt;br /&gt;Soca celong jero &lt;br /&gt;emut ka si mojang lenjang&lt;br /&gt;Agus huleng jentul ... na kunaon&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Karena radio masih menjadi barang langka waktu itu, tentu saja Nyi Rokhani ini menjadi hiburan yang ditunggu. Sebenarnya ada pencari beling lain yang biasa memberi imbalan abu gosok yang nota bene lebih berguna untuk ibu-ibu, tapi Nyi Rokhani tetap datang dan bernyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke-konsistenan dia mengaduk-ngaduk tempat sampah dalam usahanya mencari beling tiap hari, membuat banyak anak-anak menyangka dia gila. Bagi saya, sekarang, dia adalah seorang cerdik. Dia tidak usah susah-susah mecari modal cash untuk membeli barang yang dia cari, cukup dengan modal suara yang sudah ada pada dirinya. Lagi pula, menyanyi adalah sesuatu yang dia bisa lakukan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada orang yang seperti Nyi Rokhani hadir hari ini, yang dia cari mungkin bukan hanya beling, tapi juga barang plastik bekas botol minuman, kantong, bekas berbagai kemasan makanan dan lain sebagainya. Mungkin lagu-lagu yang menjadi tema sinetron, akan jadi tukaran yang dia berikan.  Kalau pemilihan lagunya baik, besar kemungkinan para pembatu rumah tangga akan bersemangat mengumpulkan sampah plastik lebih rapi agar dapat ditukar dengan lagu Nyi Rokhani. Memang sekarang saingan Rokhani akan berat : televisi, radio, tape, MP3 player, dan HP yang sudah punya player ini itu. Tapi kayaknya live music dari Nyi Rokhani tetap akan lebih menarik, apa lagi kalau dia bisa bernyanyi sambil main gitar, duet bersama PRT. Mereka ... PRT ... juga perlu rileks ’kan.&lt;br /&gt;
</content>
</entry>
<entry>
<author>
<name>BSet</name>
<uri>http://startfromsprouts.blogspirit.com/about.html</uri>
</author>
<title>Sukabumi : toko-toko sepanjang Jalan Raya</title>
<link rel="alternate" type="text/html" href="http://startfromsprouts.blogspirit.com/archive/2009/02/20/sukabumi-toko-toko-di-jalan-raya.html" />
<id>tag:startfromsprouts.blogspirit.com,2009-02-21:1713674</id>
<updated>2009-03-14T11:47:04+07:00</updated>
<published>2009-02-21T00:01:00+07:00</published>
<category term="Sukabumi" scheme="http://www.blogspirit.com/ns/types#category" />
<summary> Kota Sukabumi dibelah di tengah oleh satu jalan besar, dari Timur ke Barat....</summary>
<content type="html" xml:base="http://startfromsprouts.blogspirit.com/">
Kota Sukabumi dibelah di tengah oleh satu jalan besar, dari Timur ke Barat. Kalau 40 tahun lalu orang menyebut Jalan Raya, ya jalan besar itulah yang dimaksud. Sekarang mungkin sudah menjadi Jl. Sudirman atau Jl. Ahmad Yani, karena sudah diseragamkan di seluruh Indonesia&lt;br /&gt;Berjalan-jalan di jalan besar itu merupakan satu rekreasi yang paling basic bagi semua orang. Murah tapi menyenangkan. Tidak usah keluar uang tapi kita bisa ”see and be seen”, alias bisa bersosialisasi dengan orang lain.&lt;br /&gt;Yang dilakukan ketika berjalan-jalan adalah melihat etalase toko (apakah ada barang baru), melihat tukang obat jalanan (menunggu bualan, atraksi dan sulapnya yang itu-itu juga), sampai melihat yang remeh temeh (orang menggoreng pisang, membuat martabak, mencampur sirop,  membuat kue bantal dan cakwe). Ketika bulan puasa, kegiatan jalan-jalan lebih sering dilakukan.&lt;br /&gt;Oleh karena saya sering melakukan jalan-jalan di Jalan Raya, jadi walaupun sudah meninggalkan Sukabumi sekitar tahun 1973, beberapa nama-nama toko lama masih saya ingat dalam kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di sisi Utara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rumah saya terletak di Jl. Pintuhek atau Jl. Pintukisi, Kebonjati. Belakangan menjadi Jl. Siliwangi. Jl Pintuhek bersambung dengan Jl. Raya di sisi Utaranya.&lt;br /&gt;Di sudut Timur simpang tiga Jl Siliwangi dan Jl. Raya, ada &lt;strong&gt;Toko Tiga&lt;/strong&gt;, di antaranya berdagang kue-kue kering. Ketika adik saya disapih dari minum susunya, ibu saya membeli biskuit disitu. &lt;br /&gt;Dari Toko Tiga ke arah Timur, kebanyakan toko tidak mempunyai nama dan kurang menonjol. Jadi sulit untuk menceritakannya. Walaupun begitu, ada satu yang tetap teringat, yaitu &lt;strong&gt;Toko Ami&lt;/strong&gt;. Kami namai begitu karena pemiliknya mempunyai anak bernama Ami.&lt;br /&gt;Dari Jl. Siliwangi ke Barat : di sudut ada pabrik teh. Lalu ada Toko Reparasi Arloji. Pemiliknya mempunyai anak bernama Uman dan Dindin.&lt;br /&gt;Lalu ada Toko Pembuat Bekleding dan Kanvas Mobil. Pemiliknya mempunyai anak bernama Iyong.&lt;br /&gt;Sebelum Kodim, ada Toko Kitab. Di belakang toko ini ada Madrasah. Mungkin madrasah dan toko ini, pemiliknya sama. Dipikir sekarang, Sukabumi cukup banyak mempunyai toko buku dan kitab, taman bacaan dan sebuah perpustakaan di Jl Gunung Parang. Jadi, sebenarnya banyak warga Sukabumi yang intelek.&lt;br /&gt;Setelah Kodim dan jalan ke Pasar Darurat dan lapang basket, di sudut, ada &lt;strong&gt;Toko Mariana&lt;/strong&gt;. Berjualan kue. Kami suka membeli semacam kue gambang di situ.&lt;br /&gt;Di sebelahnya ada toko P&amp;D. Kami menyebutnya &lt;strong&gt;Toko Samonji&lt;/strong&gt; karena wajah bulat lebar perempuan pemiliknya, mirip dengan wajah tokoh Samonji dalam film samurai yang berjudul The Peacock Throne.&lt;br /&gt;Meloncat agak jauh, di seberang PKPN, ada Rumah Makan Soto Ayam. Persediaan ayam untuk sotonya disimpan di rak kaca, sehingga bisa dilihat dari luar. Dari beberapa kali mengamati ayam yang dipanjang disitu, saya pernah punya kesimpulan bahwa ayam yang sudah dicabuti bulunya, dan direbus, bulunya bisa tumbuh lagi. Mungkin juga saya melihat ayam yang berbeda. Tapi siapa tahu.&lt;br /&gt;Tidak jauh dari situ ada &lt;strong&gt;Toko Sepatu Bata&lt;/strong&gt;. Untung ada toko ini di Sukabumi sehingga saya langsung mengerti ketika orang melempar istilah ”harga sepatu Bata”. Harga di toko ini tidak pernah bulat, tapi beberapa Rupiah di bawah angka bulat. Misalnya, Rp 11, 985 (kenapa bukan Rp 12.000?) atau Rp 8,999 (kenapa bukan Rp 9.000?). Yang saya ingat, saya pernah membeli sepatu sandal disini. Karena perkenalan saya sudah begitu lama dengan Toko Bata (jauh sebelum Orde Baru membuka pintu bagi investor asing), saya sempat lama punya pikiran bahwa Bata itu merek lokal. Ditambah lagi setelah saya sering ke Jakarta saya menemukan Sungai Kali Bata yang tidak jauh dari Pabrik Sepatu Bata. Saya pikir nama pabrik itu dinamai dengan nama sungai itu, Sungai atau Kali bata. Mungkin juga banyak orang punya pikiran seperti saya.&lt;br /&gt;Menyeberang simpangan ke Jl. Cikiray, ada satu toko alat tulis. Dulu disitu saya pernah membeli pinsil merek Great Wall, dan fontainpen merek Ta Tung. Mungkin ini cikal bakal serbuan barang Cina ke seluruh dunia yang terjadi pada sekitar pergantian abad yang lalu. Yang menarik dari toko ini adalah kebiasaan tutup beberapa jam pada siang hari. Dari sini saya menyadari bahwa ada banyak orang secara rutin melakukan tidur siang (siesta).&lt;br /&gt;Ada &lt;strong&gt;Toko Ida&lt;/strong&gt; yang menjual pakaian jadi. Orang bilang pemiliknya mempunyai anak bernama Ida, nama kesayangan untuk Lundi farida. Beruntung saya akhirnya berkenalan dengan dia waktu kuliah. Saya juga kenal dengan Wawan, pamannya Ida.&lt;br /&gt;Tidak jauh dari situ, ada &lt;strong&gt;Toko Rido&lt;/strong&gt;, berjualan kue. Dagangannya cukup lengkap dan disukai orang sehingga tokonya selalu penuh oleh pembeli. Di depan toko sebelahnya biasanya ada pedagang kaki lima yang menjual comro.&lt;br /&gt;Di sebelah Baratnya ada Toko Foto. Kita bisa bikin pasfoto disitu. Atau bikin foto dengan gaya, berlatar belakang gambar Hotel Indonesia, atau tempat lain yang indah. Di tahun 1970-an, ada hal baru diperkenalkan disitu, yaitu mesin yang membuat duplikat dari dokumen-dokumen. Sekarang mesin seperti itu dinamai mesin fotokopi. Sekarang, mesin fotokopi akan berasosiasi dengan toko ATK, tapi pada waktu itu mungkin akan lebih mudah kalau bisnis fotokopi dimulai di toko foto.&lt;br /&gt;Sebelum simpang empat berlampu lalu lintas, ada &lt;strong&gt;Toko Bahagia&lt;/strong&gt; yang berjualan kain sarung, sandal kulit, kitab dan sejenisnya.&lt;br /&gt;Setelah simpang empat, di sudut, ada Tukang Gigi.&lt;br /&gt;Di seberang Bioskop Katri ada &lt;strong&gt;Toko Buku Agung&lt;/strong&gt; milik Pak Ahmad. Walaupun toko ini dibuka belakangan, tapi cukup laku. Mungkin karena Pak Ahmad adalah juga seorang guru, maka dia mempunyai informasi buku apa yang menjadi pegangan di sekolah-sekolah.&lt;br /&gt;Selang beberapa toko, ada toko yang menjual alat dan mesin pertanian. Terus ada toko yang menjual obat tradisonal seperti jamu, arak, anggur kolesom. Di sebelahnya ada toko bahan pakaian kepunyaan orang India, nama tokonya &lt;strong&gt;Taru Martani&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Setelah Gg. PGRI ada &lt;strong&gt;Toko Bogor&lt;/strong&gt;. Toko ini sangat besar, menjual berbagai macam barang dari pakaian sampai alat tulis. Display-nya tidak se-sophisticated Toko Ida, mungkin itu sebabnya harga disitu lebih murah.&lt;br /&gt;Di antara kantor cabang BNI dan Bioskop Gelora ada Toko Komik. Lantai toko buku komik ini dilapisi oleh ubin yang terbuat dari lempengan batu.&lt;br /&gt;Tidak jauh dari Bioskop Gelora ada Toko Reparasi Raket. Anak pemiliknya adalah juara badminton di Sukabumi. Waktu saya mereparasi raket disitu, tanpa diminta, cerita itu mengalir dari mulut sang ayah.&lt;br /&gt;Di sudut jalan ke Gedung Sandiwara Sri Asih dan Bioskop Garuda, ada &lt;strong&gt;Toko Mas Mahkota&lt;/strong&gt;. Anaknya sekolah di SMA yang sama dengan saya. Teman-teman memanggilnya si Udel. Kalau saya perhatikan, nama toko mas di Sukabumi hampir semuanya dimulai dengan huruf M.&lt;br /&gt;Di sudut yang lain dari pertigaan itu ada &lt;strong&gt;Toko Sepatu Ciliwung&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Lalu ada &lt;strong&gt;Toko Sepeda Ban Liong&lt;/strong&gt;. Pemiliknya biasanya langsung bicara dengan para pembeli. Cara bicaranya khas seorang laki-laki Cina tua.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Toko Seribu &lt;/strong&gt;menjual pakaian. Modelnya bagus-bagus, modern&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan yang melingkari Bioskop Mayawati, ada toko buku komik, tempat bilyar, toko makanan burung, toko piringan hitam,  &lt;strong&gt;Toko Buku Ming Nen&lt;/strong&gt;, markas Cabang Veteran RI dan sebuah toko pakaian.&lt;br /&gt;Masih di Jalan Raya, di sudut yang menghadap ke alun-alun, ada sebuah toko optik.&lt;br /&gt;Setelah alun-alun, ada tempat tukang cukur rambut langganan ayah saya, namanya &lt;strong&gt;Mang Oja&lt;/strong&gt;. Saya sangat terpesona dengan kursi cukurnya yang banyak fiturnya, mirip dengan kursi dokter gigi: bisa naik turun, bisa reclining, padahal hanya terbuat dari kayu. Pisau untuk mengerik kumis, jenggot dan cambang, biasanya diasah pada selembar kulit. Setelah dicukur biasanya ada acara memijit pundak, lalu kepala diputar sampai terdengar bunyi krek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di sisi Selatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di seberang Toko Ami, ada kios penjual minyak tanah dan solar. Orang-orang bilang pemiliknya bernama &lt;strong&gt;Martimbang&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Di totogan Jl. Pintuhek, ada sebuah toko. Pemiliknya mempunyai anak yang bernama Jafar dan Ali.&lt;br /&gt;Tidak jauh setelah Jl. Baros, ada Rumah Makan milik &lt;strong&gt;Mang Kowi&lt;/strong&gt;. Sangat laku. Makanan sekitar empal, usus, babat, kulit, ayam, sop dan sejenisnya. Karena tempatnya sempit, banyak orang yang membeli untuk dibawa pulang. Seperti biasa, kalau ada usahawan yang laris maka isu negatif mulai beredar. Katanya Mang Kowi memuja ini dan itu. Tapi tetap saja rumah makan dia penuh pengunjung.&lt;br /&gt;Di sebelah Pompa Bensin ada Bengkel Mesin Tik. &lt;br /&gt;Yang menarik di jejeran itu adalah &lt;strong&gt;PKPN&lt;/strong&gt;. PKPN adalah singkatan dari Pusat Koperasi Pegawai Negeri. Pada masa jayanya PKPN inilah yang memasok beras untuk pegawai negeri di Kotamadya dan Kabupaten Sukabumi. Pasokan beras adalah yang sangat penting ketika pada jaman Orde Lama, ketika banyak rakyat Indonesia sudah mencampur nasinya dengan jagung, atau makan bulgur, demi tercapainya kebijakan Berdikari. Sebagai bagian dari bisnisnya, PKPN juga membuka toko yang menjual macam-macam barang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir di depan Toko Rido, ada sebuah Toko Kopi. Kalau tidak salah namanya &lt;strong&gt;Toko Nam Hong&lt;/strong&gt;. Tidak hanya menjual tapi juga mengolah kopi, sejak biji, disangray, ditumbuk dan dibungkus dengan kertas coklat bergaris-garis. Lewat di depan toko itu sangat menyenangkan, karena harum yang keluar dari kopi.&lt;br /&gt;Hampir dekat simpang empat berlampu lalu-lintas (satu-satunya pada waktu itu), ada &lt;strong&gt;Toko Peci Nasional&lt;/strong&gt;. Menjual peci, kain sarung, kitab dan sejenisnya.&lt;br /&gt;Di sebelah Bioskop Katri ada Toko Buku. Di sebelah Gang Nugraha, ada &lt;strong&gt;Toko Karuhun&lt;/strong&gt;. Ini semacam salon kecantikan untuk ibu-ibu.&lt;br /&gt;Sebelum jalan ke Pasar Gede, ada rumah teman saya yang bernama Olleke. Mungkin dulu orangtuanya membuka toko. Lalu ada toko penatu atau wasserij, yang sekarang populer dengan nama laundry.&lt;br /&gt;Di depan Bioskop Gelora ada restoran yang menjual es shanghai. Di totogan jalan Garuda ada Toko Surabaya. Di sebelahnya ada gang dimana Lena tinggal. Terus ada toko mas yang pemiliknya punya anak bernama Ling-ling.&lt;br /&gt;Agak menyimpang dari Jl. Raya. Di Jl. Pelabuhan ada &lt;strong&gt;Toko Tjeng&lt;/strong&gt; (baca &quot;Toko Ceng&quot;). Toko ini menjual alat-alat dan bahan-bahan untuk membuat kue. Tokonya sangat besar, mungkin karena tidak ada saingan, atau mungkin karena sangat banyak ibu-ibu di Sukabumi yang senang membuat kue.&lt;br /&gt;Di sebelah kantor pos, ada &lt;strong&gt;Toko Buku Sumur Bandung&lt;/strong&gt;. Ukuran sangat besar. Kalau waktu itu sudah ada Gramedia, tentu ukurannya akan sebesar ini.&lt;br /&gt;Setelah Bioskop Indra, ada BKTN (Bank Koperasi Tani dan Nelayan). Bank ini terletak di sudut Jl. Loji yang menuju ke Markas Pemadam Kebakaran atau sebagian orang menyebutnya brandweer. Brandweer ini terletak disamping rumah Bupati yang tepat menghadap ke alun-alun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
</content>
</entry>
</feed>