05/31/2009

Decent places for hanging-out in Bandung


Decent places for hanging-out in Bandung magnify
Sekitar sepuluh tahun yang lalu saya mengantar Hans Verhoef, orang Belanda, ke Bandung untuk suatu keperluan. Dia bertanya dimana di Bandung, dosen-dosen biasa nangkring untuk ngobrol. Otak saya langsung searching. Karena dia datang dari budaya Eropa, jadi dalam bayangan saya dia itu sedang mencari semacam cafe, tavern, club, coffee-shop, bar atau tempat apa pun namanya, dimana orang bisa datang untuk minum (bir, kopi dll) sambil ngobrol. Ketika searching dalam kepala, saya skip tempat-tempat favorit anak muda, karena biasanya lebih banyak musik hingar-bingarnya. Dosen kan kebayangnya sudah berumur, serius, dan ngobrolnya lebih berbobot.

Search result : We did not find result for such place.

Akhirnya saya bawa ke ITB, untung mobil bisa masuk ke kampus. Kelalang keliling ... sambil bilang : "Inilah tempat dosen bekerja."

Lalu saya bawa dia ke Dago Tea House. Tempat ini kan ada di sekitar kampus Pertanian Unpad, dan dalam kompleks rumah-rumah dosen. Siapa tahu ada dosen lagi nangkring. Minimal, saya bisa memperlihatkan Bandung dilihat dari tempat ketinggian, di waktu malam. Eh ternyata pemandangannya pun terhalang oleh backdrop panggung pertunjukan.

Sekarang pun, setelah sepuluh tahun berlalu, saya tetap belum tahu kalau ada tempat semacam itu di Bandung. Sorry Hans (may you rest in peace) I am not sure if such place exists in Bandung.

<<<>>>

Mazhar Iqbal kelahiran Pakistan yang menetap di Inggeris cerita bahwa orang Inggeris tidak akan mengundang temennya ke rumah. (Mungkin rumahnya berantakan, karena seminggu belum nyuci baju. Atau istrinya judes pada tamu.) Lagi pula rumah mereka terletak jauh di sub-urban, bisa-bisa temennya baru sampai di rumah sendiri besok paginya (kalau kereta api masih ada). Jadi, setelah jam kantor, mereka bertemu dan ngobrol dengan teman di tempat yang netral : tavern. Kayaknya di Jepang juga begitu.

Bagaimana di Indonesia ? Kayaknya di Indonesia kebanyakan para suami kalau pulang langsung ke rumah, tidak singgah-singgah dulu.

<<<>>>

Beberapa hari yang lalu saya lihat ada artikel di Kompas mengenai tempat minum kopi di Bandung yang enak di Banceuy. Mungkin yang seperti ini bisa menjadi decent place for hanging-out. Kebanyakan orang Indonesia tidak minum bir, jadi tempat yang menyajikan kopi atau teh mestinya jadi pilihan bagus untuk nangkring bagi kebanyakan orang. Dari istilahnya saja kita sudah punya : warung kopi, tapi kok yang beken malah Star Buck dan Coffee Bean and Tea Leaf. Okelah ...di Jakarta ada Warung Kopi Toraja dan Tea Addict yang kayaknya lokal. Jadi yang di bandung mesti dijajal.

Kopi yang paling mahal yang pernah saya minum adalah sekitar Rp 30.000, untung teman saya yang bayar. Kalau belinya satu cangkir dan ngobrolnya satu jam, cukuplah harga itu ...

(Dikirim ke milis ITB, 13 Maret 2006)

05/02/2009

Dulu nonton dimana ?


Intermeso dulu ... jangan serius terus... weekend nih.

Zaman kita mahasiswa belum ada Group 21. Jadi kualitas bioskop lebih bervariasi, kita bisa pilih yang seusai dengan kemampuan kantong.

LFM <> Ini jualannya Ceppie (TI74) yang waktu itu jadi Ketua LFM (Liga Film Mahasiswa). Selera film pilihannya bagus. Saya disini nonton Midnight Cowboy (John Voight dan Dustin Hoffman) dan James Bond (lupa yang mana). Atau yang science fiction seperti film-film Isaac Assimov. Lucu karena selain kursi juga ada mejanya, maklum tempat belajar.

Braga Sky <> Bioskopnya ada di atas jadi harus naik pakai tangga sempit. Filmnya juga lumayan. Saya disini nonton Lady L (Sophia Loren dan Paul Newman), The Champ (John Voight), Reincarnation (Michael Sarazin), Kramer vs Kramer (Dustin Hoffman), Somewhere in Time (Christoper Reeves dan Jane Seymour). Sekarang Braga Sky jadi Diskotik Star Dust (atau Xanadu ?).

Panti Karya <> Ini anak perusahaan PJKA. Juga lumayan. Saya disini nonton The Graduate (Dustin Hoffman) dan North by North West (Hitchcock).

Mayestik <> Di Jl. Braga dekat Gedung Asia Afrika. Suka ada calo. Saya nonton New York - New York di sini.

Panti Budaya <> Di Jl. Merdeka di seberang Kantor Polisi. Tempatnya lumayan. Sayang susah parkir, walaupun kita cuma bawa motor. Sekarang sudah jadi taman. Disini saya nonton Three Days of Condor (Robert Redford).

POP <> Letaknya di Jl. Braga, di depan bioskop President. Di bawahnya ada tempat Bilyar. Ada anak ITB yang sering main bilyar disini.

Tabungan Pos <> di Jl. Jawa. Salah satu bidang usaha BTN 'kali. Saya pernah nonton Godfather (Marlon Brando)disini.

Bandung Theatre <> Di Kosambi. Kalau tidak salah ini dikelola oleh yang namanya Ir. Chand Parwez (anak ITB?).

Di sekitar Alun-alun ada beberapa bioskop. Dian (Ibu saya ngotot, namanya Radio City), Elite, dan Nusantara (saya pernah nonton Oranje Soldaat disini).

Ada jenis bioskop yang lebih murah lagi, yang disebut taman. Kualitasnya antara misbar (bisa melihat bintang) dan bioskop normal. Misalnya Taman Silihwangi (Astanaanyar), Bison (Pasirkaliki), atau Hegar (Supratman). Taman Silihwangi letaknya dekat sungai, airnya sering meluap masuk ke bioskop dan menghanyutkan sandal-sandal yang dilepas.

Itu adalah bioskop-bioskop papan bawah, jangan harap bioskop-bioskop itu sekarang masih ada disana. Yang papan atas adalah seperti di bawah, inipun mungkin sudah terpukul Kelompok 21.

Paramount (atau "pa ramon", menurut pronounciation orang lokal, artinya bapana si Ramon) <> Muncul belakangan. Tapi sekarang sudah tutup lagi.

President <> Di Jl. Braga dekat Jl. Kereta Api. Saya nonton Gone With the Wind disini.

Anda nonton di mana ? Sama siapa ? Have a nice weekend.


BSet
(Dikirim ke milis ITB74, 9 Mei 2003)