09/01/2006

BKK : Prosaaaak

Bangkok
Pesawat tiba di Don Muang (1). Antri di imigrasi lama sekali. Sempat berbincang dengan Prof. Syamsul. Dia bicaranya tidak selancar kalau sedang mengajar. Suaranya pun tidak sekeras di kelas. Ternyata dia pernah sekelas dengan Arryman dan Dadan (keduanya dari TI-ITB 74), waktu di AIT (Bangkok) dan di Perancis. Belakangan baru saya tahu bahwa dia diajak ikut widyawisata, salah satunya adalah untuk penunjuk jalan di Bangkok. Atau mungkin itu hanya bergurau saja.

Lamanya mengantri di depan meja imigrasi membuat saya jadi memperhatikan intonasi perempuan yang membacakan pengumuman. Intonasinya sangat melodius, seperti orang Cianjur jaman dulu. Selalu dimulai dengan ucapan “prosaaaak”.

Setelah imigrasi, rombongan menuju tempat pengambilan bagasi. Bagasi saya sudah disana tentu, mengingat lamanya antrian di imigrasi. Setelah bagasi, rombongan menuju ruangan lain, sebelum keluar terminal. Disini rombongan menanti lagi agak lama, entah untuk apa. Ada beberapa orang yang membeli lagi Bath. Selain orang kulit putih, terlihat banyak juga orang Pakistan (?) atau Arab (?).

Sebelum masuk ke bis rombongan, ada seorang gadis mengalungkan rangkaian bunga ke leher setiap anggota rombongan, lalu tangannya menangkup seperti menyembah. Setelah itu tiap anggota rombongan difoto berdua dengan si gadis.

medium_scan0015.jpg


Pemandu wisata adalah orang lokal. Tapi setelah memperhatikan kemampuan dia berbahasa Indonesia, saya punya dugaan dia adalah orang Cina yang lahir dan besar di Indonesia yang lalu berimigrasi ke Thailand. Namanya Hok San.

Beda dengan di Cengkareng yang hiruk-pikuk dengan penjemput, terminal kedatangan Don Muang relatif sepi (2).

Suatu hal yang mecolok terlihat di jalan antara Don Muang Airport dan Bangkok adalah jalan tol-nya. Kadang satu level, kadang elevated . Juga ada satu hal yang khas, yaitu banyaknya elevated U-turn. Di Indonesia biasanya U-turn dibuat dengan menyodet median, dan kita akan dipandu oleh mat cepe (3).

Sepanjang jalan banyak bangunan yang relatif kecil (mungkin untuk kantor kecil individual, toko atau rumah). Banyak yang sudah pudar catnya. Apakah ini karena mereka belum sepenuhnya bangkit dari krisis. Atau mungkin mengecat ulang perlu izin ? Tidak sempat saya tanyakan kepada Hok San.

---------
(1) Saya pikir-pikir, makanan yang disajikan di pesawat oleh perusahaan penerbangan dapat merupakan ajang untuk mencoba resep baru. Kecil kemungkinannya penumpang menolak makanan penemuan baru yang disajikan di pesawat. Mereka lebih cenderung untuk mencicipi. Kemudian, mungkin memakannya habis, atau hanya sebagian saja. Tapi yang penting untuk chef adalah bahwa penumpang sudah mencoba.

Jarang saya melihat restoran membuat resep baru dan langsung masuk menu. Dari yang jarang itu ada Restoran Bakso Malang Karapitan yang membuat beberapa inovasi makanan dan minuman. Biasanya digabung sebagai paket dengan makanan lain, atau sebagai bonus.

(2) Mungkinkah ini ada hubungannya dengan angka tingkat pengangguran di Indonesia (6,1%) dan Thailand (2.4%) ? Di Cengkareng terlihat banyak orang yang kayaknya tidak pernah pulang, tidak jelas siapa yang dijemputnya. Dan banyak terlihat orang penjual makanan di tempat parkir Cengkareng, seperti menanti tak henti-henti. Orang yang menganggur akan berkerumun pada tempat dimana terdapat kesempatan untuk mencari uang. Sebenarnya gadis pengalung bunga di Don Muang juga tidak begitu primer fungsinya, tapi mungkin ini dibuat sedemikian untuk menyerap tenaga kerja.

(3) Selama ini saya berpendapat, seperti juga pendapat orang lain kalau saya mengobrol, bahwa jalan layang akan memperburuk pemandangan kota. Gedung-gedung tinggi yang dirancang untuk dilihat dan dinikmati dari jarak agak jauh akan terhalangi oleh jalan layang. Ambil saja contoh arsitek Mesjid Istiqlal, Silaban, dia tidak mau ada jalan kereta setinggi yang ada sekarang melintas di dekatnya. Tapi setelah melihat Bangkok, saya pikir jalan layang tidak terlalu merusak pemandangan. Apalagi kalau jalan layangnya didisain bagus. Tapi bagaimanapun saya tidak setuju jalan layang di Jl. Thamrin di Jakarta.

BKK : Thalad Thai bukan tandingan Kramat Jati

Talad Thai
Ini adalah sebuah pasar induk. Luasnya 32 ha. Dimiliki dan dioperasikan oleh swasta. Brosurnya mengklaim bahwaTalad Thai adalah pasar pertanian pusat yang terbesar di Asia.

medium_scan0022.2.jpg


Lucu juga, jauh-jauh pergi ke luar negeri melihat pasar induk, padahal pasar induk yang di Jakarta pun belum saya lihat (1).

medium_scan0024.jpg


Gambar di samping dibuat oleh Galuh, memperlihatkan mesin grading untuk jeruk, yang kedua memperlihatkan tumpukan durian. Perhatikan lantainya pasarnya yang kering dan relatif bersih. Tidak mewah.

Sejak dari Don Muang sudah ikut dengan rombongan seorang alumni IPB yang kenal baik dengan Prof. Egum dll. Menurut orang ini, lain dengan di Indonesia dimana durian montong lebih populer, di Thailand montong tidak begitu populer. Juga, kalau di Indonesia durian matang yang kuning dan berbau menyengat lebih disukai, maka di Thailand durian yang tidak begitu matang lebih disukai. Yang di Indonesia disebut matang, di sini disebut busuk.

------
(1) Sekitar empat minggu setelah kunjungan ke tiga pasar induk di luar negeri, baru saya punya kesempatan mengunjungi Pasar Induk Kramat Jati Jakarta. Pada kunjungan kedua, tanggal 1 Januari 2004, saya mengambil gambarnya. Perhatikan betapa berantakan, semrawut dan kotornya Kramat Jati. Jauh berbeda dengan tiga pasar induk di Bangkok, Singapura ataupun Kuala Lumpur.

medium_DCP_0475.JPG


Belakangan saya tahu juga bahwa ada beberapa pasar induk, atau istilah barunya terminal agribisnis, di Jawa.
- Pasar Induk Caringin. Kata Pak Egum sangat tidak sesuai dengan standar FAO
- Pasar Induk Gede Bage.
- Terminal Agribisnis, Holding-ground, Rancamaya, Bogor. Diresmikan Gubernur Jawa barat tanggal 7 Januari 2004. Apakah ada partisipasi dari MMA-IPB ?
- Terminal Agribisnis, di Sidoarjo Jawa Timur

BKK : Restoran Terbesar di Dunia

Kampus AIT
Seharusnya kami mengunjungi MM Universitas Kasetsart. Baru pada saat meninggalkan Talad Thai kami diberi tahu bahwa appointment dengan Kasetsart tidak dapat diperoleh. Mungkin karena kesibukan akhir tahun, musim liburan orang-orang. Sebagai gantinya kami membuat kunjungan tidak resmi ke kampus AIT, di kompleks kampus Universitas Thamasart. Ada beberapa orang dari AIT yang sebelumnya sudah dikenal oleh dosen MMA. Mereka bercanda sebentar, ketika kami berjalan menuju mushola.

Seperti yang sudah pernah saya lihat di tempat lain, saya bisa mengambil wudlu sambil duduk. Dilihat dari fisiknya, kelihatan bahwa banyak orang yang sholat disana seperti orang Pakistan atau Arab. Mengapa Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Budha ini menjadi pilihan mereka ?

Selesai di mushola kami mencari toko buku dan suvenir. Setelah bertanya kesana-sini kami punya gambaran kemana kira-kira kami harus berjalan dikampus yang besar itu. Agak jauh, tapi kami jadi tahu suasana kampus dan asrama AIT.

Hok San sempat bertanya letak toko buku kepada dua gadis yang sedang sibuk di sebuah ATM. Sambil cekikikan dua gadis itu menjawab :”Maaf, kami bukan orang Thailand, kami orang Vietnam”. Bahkan Hok San yang sudah lama di Thailand, dia terkecoh oleh kesamaan fisik antara gadis Vietnam dan gadis Thailand.

Makan malam di Royal Golden Restaurant
Di salah satu dinding tertera pengumuman dari Guiness World of Record yang menyatakan bahwa restoran itu adalah yang terbesar di dunia. Beberapa pelayannya menggunakan sepatu roda (lihat gambar di samping yang diambil oleh Galuh). Restorannya dibagi menjadi beberapa area, ada yang di area tidak berdinding, ada juga yang di ruangan. Di tengah-tengah restoran ada kolam. Di tengah kolam ada panggung tempat pertunjukan kesenian.

Kami menempati beberapa meja. Di tengah tiap meja dihidangkan sup tom-yam ikan. Memperhatikan rasa makanannya, sebenarnya bumbunya lebih banyak kemiripan dengan makanan di rumah ibu saya. Tom-yam misalnya, menggunakan serai. Yang berbeda mungkin hanya dosisnya. Rasa serai pada sayur tom-yam terasa kuat sekali.

Secara periodik, sekitar satu jam sekali, ada pelayan yang “terbang” membelah udara. Sebenarnya dia bergantung pada tali yang dibentangkan dari satu ujung restoran ke ujung yang lain. Pose si pelayan itu yang membuat kesan terbang, sambil membawa makanan yang dipesan tamu. Dramatis sekali, sayang saya tidak sempat menyiapkan kamera.

Tamu-tamunya datang menggunakan bis. Dilihat dari fisik tamunya, dan tulisan di kaca bis, kelihatannya tamu berasal dari berbagai bangsa : Cina, Korea atau Jepang. Sepertinya ada kerja sama yang baik dengan biro wisata, atau dengan pemandu wisata.

Hok San bilang bahwa ada anggota rombongan yang ingin melihat banci show. Dia bilang bahwa dulu orang-orang di Thailand mentertawakan, bahkan memandang rendah, banci. Tapi sekarang orang lebih terbuka, sehingga mereka bisa membuat show. Baru pada besok malamnya, beberapa anggota rombongan bisa menonton banci show.

BKK : Chao Praya- Wisata Sungai

Chao Praya
medium_scan0017.jpgChao Praya adalah sebuah sungai besar yang membelah Bangkok. Selain fungsi-fungsi alamiahnya, Chao Praya juga berfungsi sebagai prasarana lalu-lintas sejak jaman dulu, untuk barang dan orang. Oleh karena itu banyak bangunan lama (dan juga baru) yang didirikan di tepi Chao Praya. Dengan demikian, berperahu di Chao Praya juga merupakan salah satu dari acara menarik untuk turis.

medium_BKK-SIN-KL_009.jpg
Di depan jetty, ada hotel yang bentuk atap-nya mengingatkan saya pada restoran berputar di atas Hotel Panghegar Bandung.

Di perahu, selain pengemudi, ada seorang wanita dan seorang anak. Hok San memberi tahu rombongan bahwa mereka akan memberi kami kalung bunga, dan menganjurkan kami untuk memberi mereka uang. Menurut Hok San, mereka diarahkan begitu oleh pemerintah, ketimbang mereka menjadi pengemis yang hanya meminta. Kalung bunga ini adalah yang kedua sejak di Bangkok. Kalung ini dibuat dari rangkaian beberapa bunga melati yang wangi dan bunga lain untuk mengisi.

Menurut saya kalung bunga ini akan menjadi tanda bahwa kami adalah wisatawan asing, sehingga akan mudah dibedakan (oleh pedagang dll). Secara fisik penduduk Asia Tenggara sering kali terlihat mirip, sehingga kalau tanpa bunga, orang mungkin akan sulit membedakan mana turis dan orang lokal.

medium_BKK-SIN-KL_012.jpg
Gambar di samping memperlihatkan orang Thai sedang berdagang buah-buahan di atas perahu. Mereka menawarkan dagangannya kepada turis yang ada di sebuah perahu lain. Foto tersebut diambil di dekat garasi perahu raja.

Di sekitar tepat itu ada juga sebuah kuil tempat orang berusaha menghapus dosanya dengan cara memberi makan pada ikan di sungai. Ikan disitu tampak besar-besar, mungkin karena sering diberi makan.

Masih di tepi sungai Chao Praya, ada se-buah candi bernama Wat Arun. Gambar di samping memperlihatkan Wat Arun dan perahu raja. Kalau tidak salah tangkap, Hok San menceritakan bahwa candi ini dibangun oleh para pelaut China yang perahunya kandas di sungai Chao Praya.

medium_Copy_of_BKK-SIN-KL_026.jpg
Pada dinding candi terlihat hiasan yang dibuat dari potongan tembikar China. Dapat dilihat di foto bahwa motif bunga pada dinding dibentuk oleh potongan-potongan piring dan mangkuk. Di beberapa tempat malah bentuk piring dan mangkuknya masih utuh.

BKK : Patung Gajah Aus

The Grand Palace

medium_BKK-SIN-KL_045.jpg
Di dalam lingkungan istana ada daerah yang dibuka lebar untuk wisatawan. Di antaranya adalah daerah sekitar kuil Budha. Banyak patung dan benda lain yang berwarna emas mencolok, seperti yang terlihat di foto.

Patung gajah di foto sebelah ini menarik saya. Pada pagar terlihat tanda larangan menyentuh patung, tapi sudah terlambat karena patung gajah sudah terlanjur aus akibat diusap-usap tangan pengunjung.

medium_BKK-SIN-KL_040.jpg
Foto di sebelah kiri, mengingatkan saya pada tiang-tiang di Kasunanan Surakarta.

medium_BKK-SIN-KL_035.jpgPada foto sebelah kanan, terlihat sebuah kuil Budha yang mempunyai tiang-tiang miring. Ini meng-ingatkan saya ke tiang miring di Istana Pagaruyung, Sumatera Barat. Begitu juga mosaik di seputar tiang, dan sekujur bangunan, mengingatkan saya pada hiasan pelaminan pengantin Sumatera Barat.

Kuil Budha disini masih aktif. Jadi saya masih melihat aktivitas keagamaan disini. Pada gambar di bawah diperlihatkan sebuah patung kerbau yang diberi berbagai bunga persembahan. Apakah karena agama orang Thailand “mewajibkan” orang untuk memberi persembahan bunga, maka pertanian di Thailand jadi maju ? Ini suatu hal yang berguna untuk dicari hubungannnya.

Hari sebelumnya saya juga melihat di Talad Thai, pedagang memberi persembahan terbuat dari buah-buahan di altar yang mereka buat di dalam lapak mereka. Dan mengapa harus patung kerbau yang mereka beri persembahan ? Di Indonesia, bantuan kerbau kepada petani sangat besar dalam pengolahan sawahnya. Apakah di Thailand juga begitu ?

BKK : Makkasan = Makassar (?)

Lingkungan sekitar Hotel Bangkok Palace
Pemandangan di sekitar Hotel Bangkok Palace terlihat seperti di Glodok. Bangunan memenuhi lahan, sehingga tidak ada lagi apa yang disebut halaman. Foto di samping, diambil dari jendela kamar hotel pada pagi pertama. Terlihat sebuah jalan tol lewat dekat hotel.

medium_BKK-SIN-KL_002.jpg

Malam pertama di hotel, setelah mandi, saya dan Edy menelusuri jalan di samping hotel. Mula-mula membeli batere untuk kamera digital di sebuah toko suvenir. Tadi siang banyak obyek foto terlewat begitu saja karena batere kamera saya sudah habis dayanya. Penjaga (atau pemilik) toko suvenir itu lumayan bisa bicara bahasa Inggeris. Saya kira pemiliknya cukup pandai memilih lokasi untuk tokonya. Di sekitar situ ada paling tidak dua hotel, tapi hanya terlihat satu toko suvenir seperti itu, mungkin karena bukan daerah obyek turis. Padahal sering kali turis menghadapi situasi : oh saya belum punya oleh-oleh untuk si anu dan si anu, dan waktu tidak cukup lagi. Kalau ada toko yang dekat hotel, maka itu akan sangat menolong.
medium_BKK-SIN-KL_048.jpg

Di simpang empat, lihat foto di samping, ada toko 7-Eleven. Cabang toko ini banyak terlihat di Bangkok. Di sepanjang jalan banyak orang berjualan buah-buahan seperti mangga, durian dll. Ada juga yang berjualan makan malam, terlihat dari potongan daging di pajang.

Saya sempat singgah di sebuah warnet. Tarifnya tidak terlalu jauh berbeda dengan Jakarta. Teman yang lain ada yang berhasil menggunakan telepon kartu untuk menghubungi Indonesia.

Terlihat juga ada beberapa panti pijat. Bahkan terlihat lewat kaca depan beberapa turis kulit putih sedang dipijat kakinya.
medium_scan0014.jpg

Peta di samping memperlihatkan letak hotel Bangkok Palace. Di situ ada jalan bernama Makkasan Rd. bahkan ada Makkasan Railway Station. Daerahnya sendiri dinamai Din Daeng. Mungkinkah Makkasan maksudnya Makkasar (Sulawesi Selatan) dan Daeng itu maksudnya ya panggilan untuk laki-laki di daerah Makkasar ?

BKK : The Famous MBK

Makan Siang di Easton
Easton sebenarnya tidak jauh dari Hotel Bangkok Palace. Makannya buffet. Di dekat setiap piring hidangan terdapat nama makanannya, sehingga kita dapat mengetahui mana yang babi dan mana yang tidak. Pk. Nasri Nazir terlihat cemas, khawatir ada makanan haram termakan. Saya sarankan padanya untuk jadi vegetarian saja selama di Bangkok Hindari makanan hewani. Kelihatannya dia mengikuti saran saya.

Untuk desert, ada semacam es buah. Di antara isinya ada cincau.

Jewelry
Kabarnya Thailand merupakan salah satu negara terkemuka di Asia dalam bidang permata ini, bersaing dengan Hong Kong . Tempat yang dikunjungi kali ini merupakan produsen dan penjual permata yang terbesar di Thailand. (1)

Rombongan kami memang rombongan orang saleh. Yang diminta pertama kali disini, lewat Hok San, adalah tempat untuk sholat dhuhur. Kami diberi tempat di suatu tempat mirip bioskop. Setelah berwudlu di toilet. Maka kami pun bergantian melakukan wudlu dan sholat. Kelompok pertama dipimpin oleh Pk Fahmi sebagai imam. Ternyata arah sholatnya tidak sama dengan yang ditunjukkan oleh kompas Prof. Egum. Prof. Egum melakukan sholat dengan arah yang hampir berlawanan. Tapi tidak menjadi masalah besar, kelompok pertama hanya tersenyum melihat Prof. Egum dan tidak merasa perlu mengulang sholat. Kata Pak Fahmi : "Tidak ada yang salah. Yang salah adalah kalau tidak sholat sama sekali."

Rombongan lalu dipandu oleh petugas dari toko. Jumlah mereka banyak, perbandingannya hampir satu petugas untuk satu anggota rombongan. Saya dan Pk Fahmi diantar oleh seorang laki-laki berumur yang dapat bicara bahasa Melayu. Saya tidak begitu tertarik pada jewelry, jadi di tempat jewelry langkah saya agak cepat sampai akhirnya sampai ke bagian pakaian. Disini saya membeli dasi yang terbuat sari sutra Thailand.

Ma Bun Krong
Dalam perjalanan ke Ma Bun Krong (biasa disingkat MBK), dari dalam bis saya mengamati keadaan di luar. Thailand menggunakan huruf sendiri untuk nama jalan dan hampir semua nama bangunan dan toko. Kalaupun nama jalan di peta ditulis dalam huruf latin, namanya susah dilapalkan dan susah dihafal. Agak sulit untuk berpetualang sendiri di kota ini. Tidak terlihat snobisme penggunaan bahasa Inggeris. Tapi mengapa begitu banyak turis datang kesini ? (2)

MBK adalah suatu shopping center yang besar, terletak di salah satu sudut dalam satu simpang empat yang ramai. Di atas simpang empat yang sama ada pencabangan monorel. Malahan, satu station monorel ada di depan MBK.

Bis rombongan berhenti di samping MBK, sehingga kami masuk ke MBK tidak lewat pintu utama. Padahal katanya di pintu utama ada patung Mr. Ma Bung Krong. Saya sebenarnya ingin melihat rupanya. Di lihat dari namanya yang terdiri dari tiga kata, saya cukup yakin bahwa MBK adalah seorang keturunan Cina.

Restoran internasional seperti McDonald ada disini. Kerajinan tangan seperti patung, kap lampu, sarung bantal kursi dll banyak terlihat.

Pk Fahmi mencari tas tangan yang terbuat dari kulit ikan pari, untuk isterinya (3). Sudah menemukannya beberapa kali, tapi kelihatannya tidak jadi, mungkin harganya tidak cocok.

Semua barang di MBK hampir sama dengan barang yang biasa ada di shopping centre di Jakarta, kecuali satu. Yaitu terdapatnya beberapa kios yang menjual buah-buahan kering. Saya lihat ada durian, nangka, apel dll.

Makan malam
Dalam perjalanan ke hotel, di bis Hok San menyanyi Bengawan Solo, Singkong dan Keju dan Lay Katong. Dia juga bercerita satu cerita jorok, mumpung anak Pk Egum sudah tidur, dia bilang.

--------------------
(1) Bangkok Post tanggal 3 Desember 2003 memuat berita bahwa Thai Gems and Jewellery Traders Association bertekad menggeser Hong Kong sebagai pusat permata terkemuka di Asia.

(2) Kedatangan turis di Indonesia adalah 4,7 juta, sedangkan Thailand 9,5 juta.

(3) Di Kompas bulan Januari 2004 ada berita mengenai tas kulit ikan pari.

BKK : Ulang Tahun Raja

medium_BKK-SIN-KL_049.jpg
Setelah makan pagi, sebelum berangkat ke airport, kami punya waktu untuk acara bebas. Saya berfoto di depan foto Raja. Mungkin Raja berulang tahun pada hari-hari itu. Di seluruh kota, setiap bangunan memasang foto Raja dalam berbagai pose, dan dihias-hias. Di MBK, sebuah toko foto memasang foto besar memperlihatkan Raja sedang membawa kamera, memfoto sesuatu

Saya dan Edy memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan di sekitar hotel. Edy membeli beberapa kaset di satu toko. Saya hanya melihat-lihat VCD lokal. Saya lihat banyak judul film yang dibuat di Thailand. Beberapa ada yang bergambar erotis.

Ketika pulang saya membeli Bangkok Post, koran lokal yang berbahasa Inggeris. Di halaman 10 ada berita yang relevan dengan bidang agribisnis. Dikatakan bahwa CP (Charoen Pokphand) Group dari Thailand telah menanda-tangani sebuah perjanjian dagang dengan pemerintah provinsi Saanxi di China. Dengan perjanjian ini CP akan mengekspor 2.300 ton buah segar ke China mulai saat itu sampai triwulan pertama tahun 2004, sebagai tukaran dari 15.000 ton buah-buahan dari Saanxi (1).

Buah-buahan Thailand yang diliput dengan perjanjian di atas adalah pomeloes, longan, mangosteeen, mango dan durian. Sebaliknya dari China ada apel, pears, buah kiwi, red jujubes dan lington pomegranates.

Berita relevan lain adalah mengenai turisme. Tourism Autority of Thailand memproyeksikan kenaikan 20% dalam jumlah kedatangan turis di tahun 2004. Dalam tahun 2003, diperkirakan jumlah turis yang datang berjumlah 9,7 juta, 10,5% lebih rendah dari tahun 2002 karena efek dari wabah SARS dan perang Irak. Bisnis spa, yang akan tumbuh dari 300 ke 400 pada tahun 2004, diharapkan dapat meningkatkan daya saing Thailand terhadap pesaing utamanya di kawasan ini, yaitu Bali.

Di Don Muang menunggu agak lama. Di ruang tunggu, Pk Fahmi bersama beberapa orang sholat di atas karpet, beralaskan koran.

---------------
(1) Lebih jauh di Bangkok Post tanggal 3 Desember 2003 : Buah-buahan Thailand yang diliput dengan perjanjian di atas adalah pomeloes, longan, mangosteeen, mango dan durian. Sebaliknya dari China ada apel, pears, buah kiwi, red jujubes dan lington pomegranates. Saanxi merupakan daerah produksi buah-buahan utama di China dengan output total 5,15 juta ton, 3,9 juta ton di antaranya apel.

Hal ini merupakan tindak lanjut dari yang sudah dimulai di Bulan Oktober 2003, yaitu dibuatnya persetujuan mengenai bilateral free trade area. Dengan persetujuan itu Thailand dan China menghapus tarif dari 116 item berupa buah dan sayur. CP mempunyai rencana untuk membuat perjanjian lain dengan provinsi yang lain seperti Liaoning dan Shandong.

Pengapalan buah segar dan didinginkan ke Hong Kong dan China mencapai 21,35 triliun Baht dalam tahun 2002, yang merupakan 61% dari total exkspor buah-buahan Thailand. Secara total nilai ekspor Thailand adalah 35 triliun Baht : 9 berupa buah segar, 18.6 diproses dan 7.4 berupa juice.

Walaupun begitu, eksportir Thailand tetap dalam situasi yang tidak menguntungkan, terutama karena China memungut PPN 13% dan menerapkan batas yang ketat berkenaan dengan residu kimia.