11/18/2006

Solo - Selo - Borobudur

Bulan Oktober yang lalu, Presiden Megawati meresmikan jalur wisata Solo - Selo - Borobudur. Selama ini turis yang mau ke Borobudur menginapnya di Yogya. Pemda Jateng pasti tidak senang dengan keadaan ini : Jateng yang mengurus Borobudur tapi turisnya menginap di
Yogya sehingga uang turis mengalir ke Yogya lewat hotel-restoran dll. Kelihatannya kini Jawa Tengah berusaha mengubah hal itu, turis diarahkan untuk mengakses Borobudur dari Solo, dengan bonus keindahan pemandangan di Selo.

Saya pernah lewat ke Selo, dari Solo, lewat Boyolali, atas saran seorang keponakan. Sarannya, kalau mau lewat Selo jangan sore karena banyak kabut, you will miss the beautiful view. Tapi kalau waktunya tepat, mobil kita bisa seakan melayang di atas awan karena kita lebih tinggi dari awan. Sayang saya terlambat berangkat dari Solo karena berbagai hal, jadi tidak
bisa melihat keindahan seperti ituitu. Tapi di satu tempat, saya lihat pemandangan ke arah Boyolali yang sangat indah.

Selo terletak di antara dua puncak gunung : Merapi dan Merbabu. Jadi ada suatu tempat dimana kita bisa melihat cukup dekat kedua puncak itu, kalau tidak ada kabut tentu.

Kita akan masuk jalan besar lagi di daerah namanya Blabak (pabrik kertas ?). Sebelum ke Borobudur bisa singgah dulu ke Muntilan untuk beli lumpia.
Ada satu pertanyaan yang sedang saya cari jawabannya : apakah Ki Ageng Selo berasal dari Selo ini ?

Masih musim holiday ... ayo kita bersantai.


BSet

(Dikirim ke milis ITB74, 20 Desember 2002)

15:10 Posted in Jawa | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Solo, Selo, Borobudur, Merapi, Merbabu

Close encounters

Ada dua kejadian yang secara tidak sengaja mempertemukan saya secara dekat sekali dengan dua unsur penting dalam agama Katolik : pastur dan gereja. Tentu tanpa melupakan teman-teman Katolik saya yang sudah lama saya kenal baik.

Pertemuan dengan Pater Peperzaak
Kemungkinan besar anda memakai buku teks Kimia SMA yang ditulis oleh orang ini. Dia orang yang baik, saya dengar honor dari buku itu dia pakai untuk membuat ruang kimia di SMA Mardi Yuana Sukabumi. Lewat Pater van Dongen yang ketemu waktu tour, saya menemukan alamat Pater Peperzaak yang waktu itu sudah pulang ke Belanda. Kartu pos yang saya kirim dibalasnya dengan undangan untuk datang ke asramanya di Rotterdam. Dia menjemput saya di stasiun kereta. Kamarnya merupakan bagian dari gereja saya kira. Disana bicara panjang lebar mengenai Sukabumi, Mardi Yuana, Indonesia, mengapa dia pulang dari Indonesia dll. Disuguhi minuman botol entah apa namanya, mungkin buatan sendiri.

Ikut misa di sebuah monastery di Arnhem
Masih dalam rangka tour di Belanda. Malam Minggu menginap di Hotel Papendal Arnhem. Acara pertama hari Minggu adalah mengunjungi sebuah biara tua dekat hotel. Dimulai dengan menonton orang yang lagi misa. Seharusnya kami nonton di balkon, tapi karena balkon penuh maka waktu sampai tangga kami sudah diminta turun lagi dan dipersilahkan duduk di bangku peserta misa. Di samping saya duduk gadis dari Thailand yang juga tidak kebagian tempat di balkon (Are you catholic ? Saya tanya dia. No. Me neither). Total stranger.

Tapi karena kami duduk di area peserta misa, demi kepantasan (dan kepenasaranan) kami harus mengikuti gerak-gerik mereka. Orang-orang berlutut, kami ikut (ooh jadi ini gunanya bantal yang di bawah itu kata si gadis Thailand). Orang-orang nyanyi bahasa Belanda, kami hanya buka mulut tanpa suara.

Di akhir acara orang-orang antri kedepan, kami juga ikut. Ternyata orang-orang mengambil semacam kue tipis, dicelupkan ke anggur, lalu dimakan. Kami juga ikut. Mudah-mudahan Pater van Dongen tidak mendaftar saya menjadi jemaat gereja itu.

BSet

(Dikirim ke milis ITB74, 8 September 2002)

Ik ben Bang

Bang Win,

Di Den Haag, suatu kali saya mau memproses film slide di satu toko foto. Si petugasnya menyuruh saya menulis nama di formulir. Setelah dia baca nama saya dia bilang : "Bambi ... ? (sambil nunjuk saya) .... bang (sambil memperlihatkan mimik takut). "

Humor orang Belanda dan Inggeris dalam pengamatan saya memang lumayan cocok dengan kita-kita.

Jadi, kalau berkenalan sama orang Belanda yang kira-kira bisa bercanda saya suka bilang : "Ik ben Bang ... maar ik ben bang niet."

Terjemahannya kira-kira : Saya Bambang ... tapi saya tidak takut. Karena dalam bahasa Belanda : bang = takut.

Raymond Rerimasse pasti ngetawain saya pakai bahasa Belanda salah-salah.

BSet

(Dikirim ke milis ITB74, 11 September 2002)

15:05 Posted in Belanda | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Ik ben bang