02/16/2009
Sorong circa 1986
Sorong
Tahun 1986, atau sekitar itu. Pesawat terbang mendarat di bandar udara Jefman, yang terletak di satu pulau. Dari situ naik speedboat menuju kota Sorong di mainland. Pada beberapa speedboat yang terlihat disitu tertulis Bus Air yang entah bagaimana mengingatkan saya pada Airbus.
Hotel saya terletak tidak jauh dari tempat speedboat mendarat. Hotel kecil saja. Mirip rumah sebenarnya. Terlihat sedang ada kegiatan perluasan hotel di belakang. Menarik, setelah mengetahui bahwa untuk pembangunan disitu tidak dipakai batu kali seperti lazim di Jawa. Melainkan memakai batu berwarna putih. Mungkinkah batu karang dari laut?
Ada yang bilang, karena di Irian tidak ada gunung api, maka sungai-sungai tidak mempunyai batu-batu seperti di Jawa. Batu di Jawa sebenarnya terbentuk dari lahar yang keluar dari gunung berapi.
Malamnya saya menemui Mr. Jetze Heun, team leader proyek kami. Dia tinggal di hotel yang lebih besar. Dia terlihat sedang bicara dengan dua perempuan di bar. Setelah saya datang dan memperkenalkan diri, saya dan Mr. Jetze Heun meninggalkan bar menuju meja.
Saya bilang: ”Sorry for spoiling your party.”
Mr. Heun bilang: ”Don’t worry. There’s no party.”
Saya punya feeling dia gembira saya datang, sehingga dia punya alasan meninggalkan dua perempuan itu. Dari fisiknya, saya yakin dua perempuan itu bukan orang Irian.
Proyek kami ada di Kecamatan Inanwatan. Mengenai pengembangan rawa pasang surut. Bersama Euroconsult dari Belanda. Karena tim belum lengkap maka kami terpaksa harus tinggal di Sorong beberapa hari. Jadi harus melakukan sesuatu untuk ”killing time”.
Saya terkesan dengan angkutan umum di kota Sorong. Kendaraannya selalu bergerak, tidak berlama-lama ngetem seperti di Jakarta atau Bandung. Tapi ketika bergerak pun, kendaraan ini tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, sekitar 30-40 km/jam.
Untuk keperluan proyek, saya mencari informasi di kantor Bulog setempat. Di depan saya, pegawai Bulog ditelepon oleh isteri temannya yang bekerja di Pertamina Sorong. Si isteri itu minta bantuan supaya suaminya disadarkan dari perbuatan selingkuhnya. Mungkin itu fenomena khas pegawai luar Irian yang ditempatkan di Irian.
Ada satu hal yang saya saksikan di Sorong, baru pertama kali saya saksikan selama hidup. Kalau kita ke restoran, selama menulis order kita, waiter akan duduk satu meja dengan kita. Saya saksikan itu di dua restoran, jadi saya anggap itu kebiasaan umum di kota Sorong.
Berjalan agak jauh, keluar kota Sorong, melewati sumur minyak yang aktif. Saya masuk ke daerah transmigrasi, mungkin daerahnya bernama Klamono. Satu-satuya tempat yang bisa saya masuki hanya sebuah warung makan. Pemiliknya ternyata dari Jawa Barat, jadi banyak yang bisa dibicarakan. Dia cerita bahwa dia punya saudara sepupu yang baru cerai, sekarang tinggal di rumahnya. Si Teteh menunjukkan rumahnya yang kelihatannya tidak jauh dari situ. Kelihatannya dia sedang menawarkan sepupunya pada saya.
Saya keluar dari warung itu. Dari rumah di sebelahnya saya dengar selarik syair lagu dangdut ”.... termiskin di dunia.... .”
Saya meninggalkan Sorong lewat bandara yang ada di darat. Take off dengan pesawat kecil menuju Inanwatan, lewat Fak-fak.
Apakah Sorong ada hubungannya dengan sepotong lirik dalam lagu Apuse : “Sorong doreri”? Entahlah. Pertanyaan tersebut tak terjawab hingga sekarang.
09:59 Posted in Papua | Permalink | Comments (0) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: sorong, euroconsult, inanwatan
06/17/2008
Fak-fak
Saya pernah menginap di Fak-fak beberapa malam sekitar tahun 80 lah. Ditambah beberapa kali singgah setelah itu. Ada beberapa pengalaman yang menarik.
<> Bupatinya waktu itu bernama Sugiarto, atau seperti itulah. Mayor Infantri. Untuk ketemu Bupati gampang sekali, nyelonong saja ke rumahnya malam-malam. Salaman memperkenalkan diri, lalu ikut nimbrung ngobrol dan ngopi. Tapi kebanyakan sih dengerin dia menceritakan pengalamannya.
<> Wilayah Kabupaten Fak-fak sangat luas. Membentang dari pinggir pantai sampai ke gunung yang bersalju. Kalau ada penduduk yang meninggal karena kedinginan, itu karena mereka penduduk berjalan ke wilayah bersalju tanpa pakaian yang memadai. Itu kata beliau.
<> Tembagapura ada di dalam wilayah kabupaten Fak-fak. Tapi waktu itu tidak ada penerbangan langsung dari kota Fak-fak ke Tembagapura. Suatu kali mau ada Menteri Habibie berkunjung ke Tembagapura. Sebagai Bupati dia harus hadir dong di Tembagapura. Untuk menuju ke Tembagapura, pak Bupati terpaksa terbang lewat Sorong ke Ambon. Di sana dia ikut pesawat rombongan Menteri. Bayangkan ... untuk mencapai satu titik di wilayahnya sendiri, Bupati harus keluar propinsi, lalu balik lagi naik pesawat. Dari Ambon waktu itu memang ada pesawat Garuda langsung ke Tembagapura.
Mungkin karena proses perkenalannya kurang baik, maka terjadi hal yang lucu. Sesampai di Tembagapura, Pak Menteri bertanya pada asistennya :"Siapa sih orang itu ... kok ikut rombongan kita sejak dari Ambon?". Yang di-refer oleh Pak Menteri adalah Bupati Fak-fak yang notabene juga tuan rumah.
Sekarang sih saya dengar kabupaten Fak-fak sudah/sedang menjajagi mendirikan perusahaan penerbangan sendiri. kalau di Jawa ada dosen terbang, di Australi ada dokter terbang, maka di Fak-fak ada bupati terbang. Banyak duit.
<> Saya menginap di rumah seorang teman bernama Frans Budiman. Orang tuanya membuka toko (kalau tidak salah namanya toko Sahabat) dan punya pabrik roti. Pernah dihidangkan daging rusa. Beli di pasar mungkin, tapi yang pasti itu hasil berburu.
Kelihatannya masyarakatnya sangat rukun. Orang saling sapa di jalan tanpa memandang ras atau agama.
<> Pelabuhan Udara Fak-fak terletak hampir di bibir jurang yang dalam. Kalau pilotnya kurang terampil ketika landing atau take off, resikonya masuk ke jurang dan jatuh ke laut di bawah sana.
19:05 Posted in Papua | Permalink | Comments (3) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: Fak-fak, Papua, Irian



