08/31/2006
SIN : the skyline
Sky-line di Singapura
Datang di Changi menjelang gelap. Pemandu wisatanya wanita. Kain yang membungkus kepalanya membuat dia terlihat seperti wanita Gypsi peramal nasib orang.
Saya masih ingat jalan layang di pinggir pantai itu, yang menghubungkan Changi dan pusat kota. Adalah menarik waktu saya bandingkan sky-line Singapura kalau dilihat dari jalan layang, dari tahun 1982-1996-2004. Ada gedung baru muncul, dan ada gedung lama hilang.
1982

1996

2004

Tanda panah menunjukkan gedung yang sama, yang sudah ada sejak tahun 1982.
09:00 Posted in Singapore | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: singapore, skyline
08/30/2006
SIN : pengemis di Bugis Street
Makan malam di pinggir sungai (Clarke Quay ?)
Makan malam di sebuah retoran di pinggir sungai Singapura. Mungkinkah ini yang disebut Clarke Quay? Antara restoran dan sungai ada halaman. Mungkin pada waktu banyak tamu datang, di halaman ini juga dipasang meja dan kursi untuk makan. Sebelum makan, rombongan mengambil foto dengan latar belakang sungai.
Bugis Street
Rombongan menginap di Hotel Golden Landmark (?). Hanya berjarak sekitar 300 m dari Bugis Street. Sebelum berangkat, Prof. Egum memberi gambaran bahwa Bugis Street itu seperti Pasar Kota Kembang Bandung. Dan ternyata dia benar.

Saya berangkat dengan Edy yang sudah berniat untuk membeli koper beroda. Di Bugis Street bertemu dengan rombongan keluarga Prof. Egum. Galuh diizinkan Prof. Egum untuk pindah ke rombongan saya. Bertiga kami mencarikan koper untuk Edy.
Selesai Edy membeli koper, kami bergerak pulang. Seorang Cina tua tiba-tiba menyapa dan meminta uang pada saya. Yang langsung terpikir oleh saya, Singapura adalah “fine city”, siapa tahu memberi uang kepada orang tua itu akan membuat saya “got fine”. Jadi saya tidak memberinya uang. Toh di Jakarta pun saya jarang memberi uang pada peminta-minta.
Mustafa Shopping Centre
Begitu keluar dari lingkungan Bugis Street, kami bertemu dengan Pk Fahmi dan Pk Nasri. Mereka bilang mereka akan ke Mustafa Shopping Centre yang buka around-the-clock. Ternyata Edy dan Galuh juga berminat ikut, jadi kami bertiga ikut mereka.
Mustafa Shopping Centre terdiri dari kurang lebih lima lantai. Yang paling bawah adalah elektronik, dari televisi, komputer, kamera dll. Ada lantai untuk pakaian, perhiasan, makanan dll. Ternyata toko di seberangnya juga bagian dari Mustafa, dihubungkan dengan jembatan yang berisi toko juga.
Waktu mau pulang, kami membuat pembahasan dulu, apakah mau pulang ke hotel naik taksi atau jalan kaki. Tapi tak seorang pun dari kami ingat nama hotelnya, bagaimana caranya memberi arah pada sopir taksi ? Jadi akhirnya kami putuskan untuk jalan kaki. Karena kami selalu bergurau, jarak yang agak jauh menjadi tidak terasa.
Sebelum tidur kami membagi tumpukan pakaian menjadi dua. Satu untuk dibawa ke Kuala Lumpur. Satu lagi (pakaian kotor, oleh-oleh Bangkok) untuk dititipkan di Singapura (entah dimana).
08:00 Posted in Singapore | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: clarke quay, singapore, mustafa shopping centre, bugis street, edy nugroho, galuh chandra dewi
Muhibah ke S'pur (3)
Ikan hias
Di buku panduan rombongan rencananya mau mengunjungi Agrotechnology Parks yang menjalankan hortikultura anggrek dan tanaman hias lain, sayuran dan buah-buahan, ikan hias dan ayam petelur. Tapi pada kenyataannya hanya mengunjungi Qian Hu Fish Farm (1).
Tapi disinilah untuk pertama kali, rombongan diterima oleh tuan rumah dari tempat yang dikunjungi. Seorang pemuda Cina memberi penjelasan dalam bahasa Inggeris khas Singapura. Produk mereka diekspor ke Eropa terutama.
Menurut yang dapat saya tangkap, perusahaan ini melakukan promosi gratis (termasuk penjemputan dari station MRT terdekat) mengenai ikan hias kepada para pelajar Singapur. Dan hal ini masih dalam rangka bisnis. Mereka ingin agar para pelajar memelihara ikan hias di rumahnya (2). Dengan demikian mereka akan membeli makanan ikan serta berbagai aksesorisnya. Mereka mengatakan bahwa item-item itu mempunyai kontribusi lebih besar dalam sales, ketimbang ikannya sendiri.
Rombongan diajak melihat-lihat akuarium-akuarium yang memajangkan berbagai macam ikan, termasuk ikan-ikan yang unik (karena cacat atau karena sebab lain). Juga diterangkan pula latar belakang mengapa ikan arawana selalu sendirian dalam akuarium (3).
---------------------------
Catatan:
(1) Dalam gambar jejeran direksi yang terpampang di dinding, ada foto seseorang yang pernah saya lihat di channel CNBC. Namanya Mr. Kenny. Dia diwawancara oleh CNBC dalam hubungannya dengan bisnis ikan hiasnya.
(2) Dari penelitian selintas di internet, Singapura memberlakukan peraturan yang ketat mengenai binatang peliharan. Misalnya tentang izin memelihara anjing. Aturan tertentu untuk anjing yang dianggap galak. Hanya anjing tertentu (toy-dog) yang boleh dipelihara dalam flat. Seperti biasa, kalau Singapura punya peraturan, biasanya di-enforce secara serius. Dengan rumitnya aturan untuk pemilik anjing, makas timbul kesempatan untuk pengusaha ikan hias untuk menawarkan ikan hias sebagai alternatif binatang peliharaan di rumah.
Ada sebuah website untuk para pemilik binatang peliharaan, dimana orang bisa berbagi pengalaman.
(3) Saya pernah membaca di mass media (atau seseorang bicara pada saya ?), bahwa ikan Lou Han merupakan hasil rekayasa orang Malaysia. Maksudnya agar Malaysia mempunyai ikan khas. Dari jejeran akuarium yang ada di Qian Hu Fish Farm Singapura, seingat saya, saya tidak melihat ikan Lou Han. Ini cocok. Singapura tidak menjual atau membudidayakan Lou Han, karena Lou Han adalah “kepunyaan” Malaysia. Kedua negara itu bersaing.
07:00 Posted in Singapore | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Qian Hu Fish Farm, louhan, Singapura
Muhibah ke S'pur (4)

Pasir Panjang adalah nama pasar induknya Singapura. Kami datang sekitar pukul 9. Tempat parkirnya terlihat lengang. Mungkin jam sibuknya sudah terlewat. Tapi yang pasti tempat ini adalah terlihat bersih.
Tempat berdagangnya berbentuk bangsal. Ada juga jejeran ruang berpendingin disitu. Jenis barang-barangnya cukup familiar. Waktu itu yang terlihat kebanyakan buah-buahan. Barang-barangnya datang dari berbagai tempat : Malaysia, Thailand, Indonesia dan China. Ada yang mirip kesemek, ada sweet potatoes (ubi jalar) keduanya dari China.

Makan siang
Di satu tempat dimana rombongan akan berganti bis, kami diberi kebebasan untuk mencari makan sendiri. Kami dibagi amplop berisi uang. Pada sopir bis saya membeli tiga patung merlion yang bisa bernyanyi.
Edy, Galuh dan saya memilih makan di McDonald. Saya memesan kegemaran saya, yaitu BigMc.
Perbatasan Singapura-Malaysia
Di sisi Singapura, ruangannya besar. Mungkin pada waktu yang lain, banyak sekali orang di sana. Sebelum sampai ke imigrasi Malaysia, semuanya diperingatkan untuk mengurus bagasi masing-masing dan bahwa pemeriksaan akan ketat. Tapi ternyata tidak, malahan saya tidak menemukan seorangpun yang memeriksa saya
Menurut pemandu wisata bis wisata Singapura tidak bisa tidak bisa masuk Malaysia. Begitu juga sebaliknya. Kekecualian hanya untuk bis Malaysia yang langsung ke airport Changi. Jadi di imigrasi Malaysia, kami berganti bis.
06:00 Posted in Singapore | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: singing merlion, pasir Panjang



