05/24/2009
Sukabumi: Demam Hwa Hwe
Ini terjadi pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, masyarakat Sukabumi dilanda demam judi Hwa Hwe. Mekanisme judi Hwa Hwe adalah sebagai berikut.
Seseorang yang bertindak sebagai bandar, biasa dipanggil taypak, menulis sebuah nomor pada secarik kertas. Nomor tersebut diambil dari angka-angka antara 1 sampai 99. Kertas tersebut lalu dimasukkan ke dalam sebuah kotak, lalu kotak tersebut dikerek seperti mengerek sangkar burung pada sebuah tiang bambu. Orang banyak bisa menyaksikan bahwa kotak tersebut selama seminggu tidak pernah diturunkan dari tiangnya, jangan pula dibuka. Jadi nomor terebut tidak pernah diubah oleh taypak, sampai diturunkan.
Nomor tersebut hanya diketahui oleh taypak seorang. Peserta judi dipersilahkan menebak angka tersebut. Kalau tebakannya tepat, maka taypak akan membayar peserta tersebut sepuluh kali lipat (kalau tidak salah) dari uang yang dipasangnya.
Taypak biasanya membuat gambar-gambar yang dapat menjadi petunjuk (clue) bagi peserta, mengenai angka yang di dalam kotak tersebut. Misalnya, taypak menggambar dua pistol di atas kertas A4. Orang bisa menafsirkan gambar dua pistol itu sebagai representasi nomor 77, karena bentuk pistol menyerupai angka 7. Atau bisa juga ditafsirkan sebagai nomor 66 karena isi peluru dalam pistol Colt adalah 6.
Kalau orang sudah cukup yakin dengan tebakannya, dia bisa mengisi formulir dan membayar uang pasangannya pada agen Hwa Hwe yang tersebar di seluruh wilayah kota Sukabumi.
Ada istilah “dimistik”, yang artinya angka 7 belum tentu berarti angka 7. Bisa saja yang dimaksud dalam kode tersebut adalah angka 4. Jadi kalau tafsiran atas kode dari taypak menghasilkan nomor 77, bisa jadi yang dimaksud taypak adalah nomor 44. Aturannya begini, angka 2 bisa dimistik menjadi 5, 3 jadi 8, 4 jadi 7, dan 6 jadi 9. Aturan ini berlaku juga sebaliknya. Jadi 4 bisa jadi 7 dan seterusnya.
Ada juga istilah “rihting”, seperti sebutan pada lampu sen pada kendaraan. Jadi kalau sudah dapat nomor 77, sebaiknya dipasangi juga angka 76 (rihting kiri), dan 78 (rihting kanan).
Gerak-gerik taypak juga bisa menjadi petunjuk tentang angka di dalam kotak itu. Kalau taypak mengupil di depan orang banyak, bisa ditafsirkan dia sedang menggambarkan nomor 10, karena jari telunjuk dianggap angka 1, dan lubang hidung satu lagi dianggap angka 0.
Selain kode dan petunjuk yang dikeluarkan oleh taypak, orang-orang juga berusaha sendiri mencari tahu lewat dukun, “orang pintar”, orang gila atau lewat mimpi. Sering kali petunjuk dari mereka juga tidak straightforward sebuah nomor, tapi tetap merupakan kode. Dengan demikian, meja kerja dan dinding rumah seorang agen Hwa Hwe akan dipenuhi oleh kertas yang berisi gambar kode-kode dari berbagai sumber.
Yang orang-orang kerjakan sepanjang hari dan sepanjang minggu, di rumah dan di kantor, adalah memandangi kode-kode tersebut. Berharap mendapat inspirasi tentang nomor yang akan keluar. Berharap memperoleh tambahan uang untuk menopang kebutuhan sehari-hari.
Tibalah akhir pekan, orang berkerumun di depan rumah taypak, di Jl. Palabuhan Ratu, dekat Toko Tjeng. Kotak diturunkan, lalu secarik kertas itu dilihat isinya. Ada yang senang karena angka yang dipasangnya cocok, ada juga yang kecewa karena usaha dan dana yang sudah dikeluarkan ternyata hanya sia-sia. Harapan yang menggelembung besar karena begitu yakin nomor yang diperolehnya dari dukun sakti akan menang, pada hari itu meletus seperti balon tertusuk jarum, menyisakan kekecewaan yang mendalam. Beberapa orang bisa menjadi gila, dan kalau itu yang terjadi, bertambahlah orang yang bisa ditanya mengenai kode Hwa Hwe.
Ada istilah “ka laut” yang artinya nomor yang dipasanginya gagal, seperti layaknya sampah yang dibawa sungai, terapung mengalir menuju ke laut. Persis seperti waktu orang-orang yang terbuang untuk mempelototi gambar-gambar kode yang mereka peroleh dari orang gila dan pemimpi.
18:42 Posted in Sukabumi | Permalink | Comments (1) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: hwa hwe, taypak, mistik, ka laut
03/03/2009
Nyi Rokhani - Sinden Beling
Sukabumi, pertengahan dekade 1960-an. Ada seorang perempuan tengah baya yang dikenal dengan nama Nyi Rokhani. Tubuhnya tinggi untuk ukuran perempuan, tapi langsing dan kokoh. Biasanya memakai kebaya dan kain batik sebetis. Kulitnya hitam karena terpanggang matahari. Tulang pipi menonjol, mungkin alami atau karena gigi sudah banyak tanggal. Sanggulnya yang sederhana, cukup rapi.
Yang biasa dia lakukan adalah mencari dan memungut beling untuk dijual lagi. Yang menarik adalah jika ada yang memberi dia botol, atau kaca dalam ukuran yang agak besar, dia akan menyanyi seperti sinden, sebagai imbalan untuk pemberinya. Dia bernyanyi sambil jongkok menghadap kliennya yang duduk di ambang pintu rumahnya. Anak-anak tetangga berdiri di belakang Nyi Rokhani, ikut mendengarkan.
Suaranya bagus, mirip Titim Fatimah. Ada powernya, sehingga terdengar keras walaupun tidak memakai mike. Tanpa iringan instrumen apapun, tetap atraktif. Dan ... improvisasinya itu yang sulit ditandingi oleh sinden atau penyanyi jazz muda.
Dia menyanyi dengan penuh percaya diri seperti profesional, sehingga nada-nada pentatonisnya tidak meleset. Sekarang saya bertanya-tanya, kenapa dengan kualitas seperti itu, kenapa dia tidak ikut grup kesenian. Apakah karena dia sudah terlalu tua untuk dipajang di panggung?
Tapi kalau diperhatikan betul mukanya, saya tidak melihat ekspresi gembira yang biasa terpancar dari wajah seorang entertainer. Mungkinkah dia menyembunyikan sesuatu? Pengalaman yang menggetirkan mungkin?
Lagu-lagunya adalah lagu berbahasa daerah yang sedang populer pada waktu itu. Misalnya : Ekek Paeh, Alim Dicandung, Petis Kupa, Agus Huleng Jentul, Dikantun Tugas dan lain-lain.
Di bawah ini beberapa syair lagu yang masih teringat.
Kerak da lain, japati belang jangjangna
Nalak ge lain, lamun mindeng dianjangan
Atau
Petis kupa jeung jatake, sihoreng mah ... sihoreng mah ... cereme leuweung
Alus rupa hade hate, sihoreng mah ... sihoreng mah ... bebene deungeun
Atau
Agus huleng jentul ... na kunaon
Soca celong jero
emut ka si mojang lenjang
Agus huleng jentul ... na kunaon
Karena radio masih menjadi barang langka waktu itu, tentu saja Nyi Rokhani ini menjadi hiburan yang ditunggu. Sebenarnya ada pencari beling lain yang biasa memberi imbalan abu gosok yang nota bene lebih berguna untuk ibu-ibu, tapi Nyi Rokhani tetap datang dan bernyanyi.
Ke-konsistenan dia mengaduk-ngaduk tempat sampah dalam usahanya mencari beling tiap hari, membuat banyak anak-anak menyangka dia gila. Bagi saya, sekarang, dia adalah seorang cerdik. Dia tidak usah susah-susah mecari modal cash untuk membeli barang yang dia cari, cukup dengan modal suara yang sudah ada pada dirinya. Lagi pula, menyanyi adalah sesuatu yang dia bisa lakukan dengan baik.
Kalau ada orang yang seperti Nyi Rokhani hadir hari ini, yang dia cari mungkin bukan hanya beling, tapi juga barang plastik bekas botol minuman, kantong, bekas berbagai kemasan makanan dan lain sebagainya. Mungkin lagu-lagu yang menjadi tema sinetron, akan jadi tukaran yang dia berikan. Kalau pemilihan lagunya baik, besar kemungkinan para pembatu rumah tangga akan bersemangat mengumpulkan sampah plastik lebih rapi agar dapat ditukar dengan lagu Nyi Rokhani. Memang sekarang saingan Rokhani akan berat : televisi, radio, tape, MP3 player, dan HP yang sudah punya player ini itu. Tapi kayaknya live music dari Nyi Rokhani tetap akan lebih menarik, apa lagi kalau dia bisa bernyanyi sambil main gitar, duet bersama PRT. Mereka ... PRT ... juga perlu rileks ’kan.
09:04 Posted in Sukabumi | Permalink | Comments (1) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: rokhani, recycle, sinden, beling
02/21/2009
Sukabumi : toko-toko sepanjang Jalan Raya
Kota Sukabumi dibelah di tengah oleh satu jalan besar, dari Timur ke Barat. Kalau 40 tahun lalu orang menyebut Jalan Raya, ya jalan besar itulah yang dimaksud. Sekarang mungkin sudah menjadi Jl. Sudirman atau Jl. Ahmad Yani, karena sudah diseragamkan di seluruh Indonesia
Berjalan-jalan di jalan besar itu merupakan satu rekreasi yang paling basic bagi semua orang. Murah tapi menyenangkan. Tidak usah keluar uang tapi kita bisa ”see and be seen”, alias bisa bersosialisasi dengan orang lain.
Yang dilakukan ketika berjalan-jalan adalah melihat etalase toko (apakah ada barang baru), melihat tukang obat jalanan (menunggu bualan, atraksi dan sulapnya yang itu-itu juga), sampai melihat yang remeh temeh (orang menggoreng pisang, membuat martabak, mencampur sirop, membuat kue bantal dan cakwe). Ketika bulan puasa, kegiatan jalan-jalan lebih sering dilakukan.
Oleh karena saya sering melakukan jalan-jalan di Jalan Raya, jadi walaupun sudah meninggalkan Sukabumi sekitar tahun 1973, beberapa nama-nama toko lama masih saya ingat dalam kepala.
Di sisi Utara
Rumah saya terletak di Jl. Pintuhek atau Jl. Pintukisi, Kebonjati. Belakangan menjadi Jl. Siliwangi. Jl Pintuhek bersambung dengan Jl. Raya di sisi Utaranya.
Di sudut Timur simpang tiga Jl Siliwangi dan Jl. Raya, ada Toko Tiga, di antaranya berdagang kue-kue kering. Ketika adik saya disapih dari minum susunya, ibu saya membeli biskuit disitu.
Dari Toko Tiga ke arah Timur, kebanyakan toko tidak mempunyai nama dan kurang menonjol. Jadi sulit untuk menceritakannya. Walaupun begitu, ada satu yang tetap teringat, yaitu Toko Ami. Kami namai begitu karena pemiliknya mempunyai anak bernama Ami.
Dari Jl. Siliwangi ke Barat : di sudut ada pabrik teh. Lalu ada Toko Reparasi Arloji. Pemiliknya mempunyai anak bernama Uman dan Dindin.
Lalu ada Toko Pembuat Bekleding dan Kanvas Mobil. Pemiliknya mempunyai anak bernama Iyong.
Sebelum Kodim, ada Toko Kitab. Di belakang toko ini ada Madrasah. Mungkin madrasah dan toko ini, pemiliknya sama. Dipikir sekarang, Sukabumi cukup banyak mempunyai toko buku dan kitab, taman bacaan dan sebuah perpustakaan di Jl Gunung Parang. Jadi, sebenarnya banyak warga Sukabumi yang intelek.
Setelah Kodim dan jalan ke Pasar Darurat dan lapang basket, di sudut, ada Toko Mariana. Berjualan kue. Kami suka membeli semacam kue gambang di situ.
Di sebelahnya ada toko P&D. Kami menyebutnya Toko Samonji karena wajah bulat lebar perempuan pemiliknya, mirip dengan wajah tokoh Samonji dalam film samurai yang berjudul The Peacock Throne.
Meloncat agak jauh, di seberang PKPN, ada Rumah Makan Soto Ayam. Persediaan ayam untuk sotonya disimpan di rak kaca, sehingga bisa dilihat dari luar. Dari beberapa kali mengamati ayam yang dipanjang disitu, saya pernah punya kesimpulan bahwa ayam yang sudah dicabuti bulunya, dan direbus, bulunya bisa tumbuh lagi. Mungkin juga saya melihat ayam yang berbeda. Tapi siapa tahu.
Tidak jauh dari situ ada Toko Sepatu Bata. Untung ada toko ini di Sukabumi sehingga saya langsung mengerti ketika orang melempar istilah ”harga sepatu Bata”. Harga di toko ini tidak pernah bulat, tapi beberapa Rupiah di bawah angka bulat. Misalnya, Rp 11, 985 (kenapa bukan Rp 12.000?) atau Rp 8,999 (kenapa bukan Rp 9.000?). Yang saya ingat, saya pernah membeli sepatu sandal disini. Karena perkenalan saya sudah begitu lama dengan Toko Bata (jauh sebelum Orde Baru membuka pintu bagi investor asing), saya sempat lama punya pikiran bahwa Bata itu merek lokal. Ditambah lagi setelah saya sering ke Jakarta saya menemukan Sungai Kali Bata yang tidak jauh dari Pabrik Sepatu Bata. Saya pikir nama pabrik itu dinamai dengan nama sungai itu, Sungai atau Kali bata. Mungkin juga banyak orang punya pikiran seperti saya.
Menyeberang simpangan ke Jl. Cikiray, ada satu toko alat tulis. Dulu disitu saya pernah membeli pinsil merek Great Wall, dan fontainpen merek Ta Tung. Mungkin ini cikal bakal serbuan barang Cina ke seluruh dunia yang terjadi pada sekitar pergantian abad yang lalu. Yang menarik dari toko ini adalah kebiasaan tutup beberapa jam pada siang hari. Dari sini saya menyadari bahwa ada banyak orang secara rutin melakukan tidur siang (siesta).
Ada Toko Ida yang menjual pakaian jadi. Orang bilang pemiliknya mempunyai anak bernama Ida, nama kesayangan untuk Lundi farida. Beruntung saya akhirnya berkenalan dengan dia waktu kuliah. Saya juga kenal dengan Wawan, pamannya Ida.
Tidak jauh dari situ, ada Toko Rido, berjualan kue. Dagangannya cukup lengkap dan disukai orang sehingga tokonya selalu penuh oleh pembeli. Di depan toko sebelahnya biasanya ada pedagang kaki lima yang menjual comro.
Di sebelah Baratnya ada Toko Foto. Kita bisa bikin pasfoto disitu. Atau bikin foto dengan gaya, berlatar belakang gambar Hotel Indonesia, atau tempat lain yang indah. Di tahun 1970-an, ada hal baru diperkenalkan disitu, yaitu mesin yang membuat duplikat dari dokumen-dokumen. Sekarang mesin seperti itu dinamai mesin fotokopi. Sekarang, mesin fotokopi akan berasosiasi dengan toko ATK, tapi pada waktu itu mungkin akan lebih mudah kalau bisnis fotokopi dimulai di toko foto.
Sebelum simpang empat berlampu lalu lintas, ada Toko Bahagia yang berjualan kain sarung, sandal kulit, kitab dan sejenisnya.
Setelah simpang empat, di sudut, ada Tukang Gigi.
Di seberang Bioskop Katri ada Toko Buku Agung milik Pak Ahmad. Walaupun toko ini dibuka belakangan, tapi cukup laku. Mungkin karena Pak Ahmad adalah juga seorang guru, maka dia mempunyai informasi buku apa yang menjadi pegangan di sekolah-sekolah.
Selang beberapa toko, ada toko yang menjual alat dan mesin pertanian. Terus ada toko yang menjual obat tradisonal seperti jamu, arak, anggur kolesom. Di sebelahnya ada toko bahan pakaian kepunyaan orang India, nama tokonya Taru Martani.
Setelah Gg. PGRI ada Toko Bogor. Toko ini sangat besar, menjual berbagai macam barang dari pakaian sampai alat tulis. Display-nya tidak se-sophisticated Toko Ida, mungkin itu sebabnya harga disitu lebih murah.
Di antara kantor cabang BNI dan Bioskop Gelora ada Toko Komik. Lantai toko buku komik ini dilapisi oleh ubin yang terbuat dari lempengan batu.
Tidak jauh dari Bioskop Gelora ada Toko Reparasi Raket. Anak pemiliknya adalah juara badminton di Sukabumi. Waktu saya mereparasi raket disitu, tanpa diminta, cerita itu mengalir dari mulut sang ayah.
Di sudut jalan ke Gedung Sandiwara Sri Asih dan Bioskop Garuda, ada Toko Mas Mahkota. Anaknya sekolah di SMA yang sama dengan saya. Teman-teman memanggilnya si Udel. Kalau saya perhatikan, nama toko mas di Sukabumi hampir semuanya dimulai dengan huruf M.
Di sudut yang lain dari pertigaan itu ada Toko Sepatu Ciliwung.
Lalu ada Toko Sepeda Ban Liong. Pemiliknya biasanya langsung bicara dengan para pembeli. Cara bicaranya khas seorang laki-laki Cina tua.
Toko Seribu menjual pakaian. Modelnya bagus-bagus, modern
Di sepanjang jalan yang melingkari Bioskop Mayawati, ada toko buku komik, tempat bilyar, toko makanan burung, toko piringan hitam, Toko Buku Ming Nen, markas Cabang Veteran RI dan sebuah toko pakaian.
Masih di Jalan Raya, di sudut yang menghadap ke alun-alun, ada sebuah toko optik.
Setelah alun-alun, ada tempat tukang cukur rambut langganan ayah saya, namanya Mang Oja. Saya sangat terpesona dengan kursi cukurnya yang banyak fiturnya, mirip dengan kursi dokter gigi: bisa naik turun, bisa reclining, padahal hanya terbuat dari kayu. Pisau untuk mengerik kumis, jenggot dan cambang, biasanya diasah pada selembar kulit. Setelah dicukur biasanya ada acara memijit pundak, lalu kepala diputar sampai terdengar bunyi krek.
Di sisi Selatan
Di seberang Toko Ami, ada kios penjual minyak tanah dan solar. Orang-orang bilang pemiliknya bernama Martimbang.
Di totogan Jl. Pintuhek, ada sebuah toko. Pemiliknya mempunyai anak yang bernama Jafar dan Ali.
Tidak jauh setelah Jl. Baros, ada Rumah Makan milik Mang Kowi. Sangat laku. Makanan sekitar empal, usus, babat, kulit, ayam, sop dan sejenisnya. Karena tempatnya sempit, banyak orang yang membeli untuk dibawa pulang. Seperti biasa, kalau ada usahawan yang laris maka isu negatif mulai beredar. Katanya Mang Kowi memuja ini dan itu. Tapi tetap saja rumah makan dia penuh pengunjung.
Di sebelah Pompa Bensin ada Bengkel Mesin Tik.
Yang menarik di jejeran itu adalah PKPN. PKPN adalah singkatan dari Pusat Koperasi Pegawai Negeri. Pada masa jayanya PKPN inilah yang memasok beras untuk pegawai negeri di Kotamadya dan Kabupaten Sukabumi. Pasokan beras adalah yang sangat penting ketika pada jaman Orde Lama, ketika banyak rakyat Indonesia sudah mencampur nasinya dengan jagung, atau makan bulgur, demi tercapainya kebijakan Berdikari. Sebagai bagian dari bisnisnya, PKPN juga membuka toko yang menjual macam-macam barang.
Hampir di depan Toko Rido, ada sebuah Toko Kopi. Kalau tidak salah namanya Toko Nam Hong. Tidak hanya menjual tapi juga mengolah kopi, sejak biji, disangray, ditumbuk dan dibungkus dengan kertas coklat bergaris-garis. Lewat di depan toko itu sangat menyenangkan, karena harum yang keluar dari kopi.
Hampir dekat simpang empat berlampu lalu-lintas (satu-satunya pada waktu itu), ada Toko Peci Nasional. Menjual peci, kain sarung, kitab dan sejenisnya.
Di sebelah Bioskop Katri ada Toko Buku. Di sebelah Gang Nugraha, ada Toko Karuhun. Ini semacam salon kecantikan untuk ibu-ibu.
Sebelum jalan ke Pasar Gede, ada rumah teman saya yang bernama Olleke. Mungkin dulu orangtuanya membuka toko. Lalu ada toko penatu atau wasserij, yang sekarang populer dengan nama laundry.
Di depan Bioskop Gelora ada restoran yang menjual es shanghai. Di totogan jalan Garuda ada Toko Surabaya. Di sebelahnya ada gang dimana Lena tinggal. Terus ada toko mas yang pemiliknya punya anak bernama Ling-ling.
Agak menyimpang dari Jl. Raya. Di Jl. Pelabuhan ada Toko Tjeng (baca "Toko Ceng"). Toko ini menjual alat-alat dan bahan-bahan untuk membuat kue. Tokonya sangat besar, mungkin karena tidak ada saingan, atau mungkin karena sangat banyak ibu-ibu di Sukabumi yang senang membuat kue.
Di sebelah kantor pos, ada Toko Buku Sumur Bandung. Ukuran sangat besar. Kalau waktu itu sudah ada Gramedia, tentu ukurannya akan sebesar ini.
Setelah Bioskop Indra, ada BKTN (Bank Koperasi Tani dan Nelayan). Bank ini terletak di sudut Jl. Loji yang menuju ke Markas Pemadam Kebakaran atau sebagian orang menyebutnya brandweer. Brandweer ini terletak disamping rumah Bupati yang tepat menghadap ke alun-alun.
00:01 Posted in Sukabumi | Permalink | Comments (9) | Trackbacks (0) | Email this
10/11/2008
Sukabumi : Paksi, kelompok pecinta alam
Di Sukabumi, sekitar tahun 1972, saya masuk kelompok pecinta alam yang bernama Paksi. Dalam istilah yang lebih mudah : kelompok pendaki gunung. Salah satu pengurus kelompok ini bernama Iwan, yang adalah putra Bupati Anwari. Pantaslah kalau Paksi mendapat tempat di lingkungan pendopo untuk sekertariatnya. Rapat anggota biasanya diselenggarakan di sebuah taman kanak-kanak,yang terletak di pendopo juga. Secara fisik, kami merasa tidak nyaman karena para anggota (yang sudah SMA ke atas) harus duduk di kursi anak TK. Tapi kami nikmati saja.
Latihan fisik dan berbagai permainan kami lakukan di lapang rumput di depan pendopo. Salah satu permainan yang kami lakukan adalah limbo, yaitu berjalan melewati batang kayu yang dipasang melintang dengan ketinggian 1,5 meter atau lebih rendah lagi, tapi tidak boleh membungkuk. Jadi, badan harus ditekuk kebelakang. Di tempat lain mungkin syair lagu yang dibawakan adalah “how low can you go”. Tapi waktu itu kami menyanyikan syair seperti berikut (entah apa artinya).
wa iya … wa iya fidunya wa iya
al jafar … aljafar habibi furqon
waiyaaaaaaa …
waiyaaaaaaa …
fidunya waiya
<>
Latihan dasar dilakukan di Situ Gunung, Cisaat. Pelepasan para peserta dilakukan di sisi Utara Lapang Merdeka, di depan BPU. Disaksikan oleh orang tua peserta. Saya tidak tahu mengapa harus didramatisir seperti itu. Ibu saya yang hadir pada pagi itu mengkritik, kenapa acara itu disebut “pelepasan”, yang menurut dia artinya “dubur”.
Para peserta, yang masing-masing membawa ransel, diangkut dengan truk militer ke Cisaat. Di simpangan jalan menuju Situ Gunung, kami drop, lalu disuruh berjalan kaki sekitar tujuh kilo meter, menuju ke Situ Gunung. Sebenarnya jarak itu bisa saya lalui dengan mudah, tapi ransel-perlengkapan-sepatu tentara yang total beratnya lebih dari 20 kilo membuat perjalanan sangat menyiksa.
Setiba di tepi Situ Gunung, kami langsung disuruh membuat tenda dengan ponco yang dibawa setiap peserta. Satu tenda diisi oleh satu regu yang terdiri dari tiga orang. Saya dipasangkan dengan satu orang pelajar SMAK yang tinggal di asrama Bunut, dan seorang karyawan.
<>
Dari pagi sampai sore para peserta diberi latihan fisik. Berlari, senam, lompat-lompat, push-up, sit-up, berjalan sambil jongkok,
Peserta yang melakukan kesalahan (seperti terlambat hadir dalam apel) akan diberi hukuman push-up. Kalau pelatih menyebut satu seri artinya peserta harus melakukan push-up sebanyak sepuluh kali. Tergantung dari berat-ringan kesalahannya, bisa saja hukumannya lebih dari satu seri.
Pelajaran menuruni tebing dengan tali sangat menarik. Yang standar adalah yang menggunakan snap-ring dan tali. Tapi kalau tebing tidak begitu curam, tali bisa dilingkarkan di paha kanan untuk menahan berat badan. Satu ujung tali diikat di pohon di atas tebing, satu ujung lagi dipegang oleh tangan kanan. Dengan punggung menghadap ke bawah, tangan kanan melonggarkan dan mengeratkan pegangannya sehingga badan sedikit demi sedikit turun ke bawah. Orang yang sudah ahli dapat melakukannya dengan indah sekali.
Pada cara menuruni tebing yang ketiga, tali dilingkarkan pada punggung. Satu ujung tali diikat pada pohon di atas tebing, satu ujung lagi dipegang oleh tangan kanan dengan posisi di sekitar ketiak kanan. Waktu menuruni tebing, sisi kanan tubuhlah yang menghadap ke bawah. Badan harus tegak lurus pada permukaan tebing. Pegangan tangan kanan di longgar-ketatkan sehingga tubuh sedikit demi sedikit bergeser turun.
Malam hari diisi dengan pelajaran teori. Ini dilaksanakan di satu bangunan di sekitar situ. Di antaranya adalah tentang bagaimana mendaki gunung dengan aman, cara memilih jalur perjalanan yang aman, cara membaca kompas dan peta, cara menetukan arah kalau tidak ada kompas, cara memilih tempat untuk kemah (bivak), cara-cara survival, cara-cara melakukan SAR.
Selesai pelajaran teori, tiap malam kami bernyanyi lagu-lagu khas pendaki gunung. Salah satu lagu yang saya ingat adalah Balada Seorang Kelana yang mempunyai penggalan syair sebagai berikut.
……..
Dingin, hening dan sepi
Di daun angin berbisik
Hai kelana tabahkan hatimu
Tuhan slalu bersamu
Ku berjalan penuh tekad
Untuk nusa dan bangsa …..
Lagu tersebut dikarang oleh Iwan Abdurachman yang waktu itu masih bergabung dengan Bimbo. Iwan yang namanya terangkat oleh lagunya yang berjudul “Melati dari Jayagiri” dan “Flamboyan”, waktu itu menjadi idola para pendaki gunung. Bahkan, sebenarnya dialah yang mendorong banyak pemuda untuk menjadi pendaki gunung. Menjadi pendaki gunung, memetik gitar dan bernyanyi adalah impian banyak pemuda pada waktu itu.
<>
Setelah beberapa hari, materi untuk Situ Gunung habis. Lalu rombongan dibawa lebih tinggi lagi di punggung Gunung Pangranggo itu. Untuk memimpin pendakian tersebut, dari Bandung didatangkan seorang anggota Wanadri yang bernama Remy. Kelompok Wanadri, dimana salah satu tokohnya adalah Iwan Abdurachman, merupakan benchmark bagi kelompok pencinta alam yang tumbuh di berbagai kota pada waktu itu.
Perjalanan naik mengikuti jalur yang sudah ada. Meliuk-liuk mengikuti kontur kaki gunung. Di satu tempat yang agak datar kami berhenti. Di antara pohon sebesar tubuh orang dewasa, kami membuat tenda. Tenda dibuat sedemikian sehingga bisa menampung air hujan, yang akan dipakai untuk minum dan menanak nasi.
Besoknya kami bergerak turun melalui jalur baru. Rumpun-rumpun yang menghalangi ditebas dengan golok oleh orang yang berjalan paling depan. Ketika menemukan tebing, kami turuni dengan menggunakan tali.
<>
Seperti juga upacara pelepasan, upacara pembubaran latihan dilakukan di sisi Utara Lapang Merdeka. Ibu saya datang lagi. Tapi dia pulang ke rumah naik delman, sedangkan saya berjalan kaki terpincang-pincang. Sepatu bot pinjaman telah membuat kuku jempol kaki kiri terkelupas. Sampai sekarang kuku yang itu belum sembuh betul.
<>
Kegiatan seperti ini membuat kami kenal dengan pemuda-pemuda sebaya dari berbagai sekolah dan bahkan denganmereka yang sudah bekerja. Saya yang sekolah di SMA Mardi Yuana, bisa bertemu dengan pelajar SMAK, STM Inka, seorang karyawan PN Barata (yang ternyata adalah kakaknya Yaya Purbaya, teman saya di SMP Negeri 1). Ini benar-benar menyatukan pemuda-pemuda secara lintas suku, lintas agama, lintas sekolah, lintas tingkat sosial-ekonomi.
20:02 Posted in Sukabumi | Permalink | Comments (2) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: paksi, pecinta alam, wanadri
04/26/2008
Si Oyay
Sebagaimana yang sudah diceritakan oleh Maulyani dalam salah satu komennya, Atret itu mungkin orang yang terobsesi ingin bisa menyetir mobil. Jadi kalau dia berjalan, tangannya seakan-akan sedang memainkan setir mobil. Kalau ada batu agak besar menghalangi jalur mobil khayalannya, Atret akan berhenti. Lalu tangannya akan bergerak seakan-akan memindahkan posisi perseneling ke gigi mundur. Lalu di maju lagi dengan jalur yang berbeda. Kadang-kadang ada orang yang iseng, si batu halangan di geser ke jalur baru sehingga mobil si Atret kerjanya hanya maju mundur.
Entah siapa yang pertama menamai orang ini si Atret. Tapi atret memang berarti mundur (dari bahasa Belanda : achteruit).
Begitulah si Atret. Suka jadi pikiran bagaimana proses dia menentukan tujuan, memilih jalur. Mungkin bagi dia sendiri bukan masalah, itu semua dibiarkan mengalir saja tanpa dipikir.
Ada lagi orang gila yang bernama Ali (kalau tidak salah). Kalau kita kasih uang, dia mau menyanyikan satu lagu yang lucu. Satu-satunya lagu yang dia bisa nyanyikan : "Jarum dikasih jarum ... jarum peniti mana lubangnya ... cium dikasih cium ... cium di pipi mana rasanya."
Kalau soal Kaliwon, saya sudah menceritakannya cukup panjang dalam posting tersendiri dalam blog ini.
Di jalan utama kota Sukabumi (dulu disebut jalan raya saja, belakangan jadi Jl. Sudirman), di totogan Jl. Garuda ada Toko Surabaya. Di emper toko ini biasa terlihat duduk seorang perempuan yang biasa dipanggil si Oyay. Sebagaimana gelandangan yang lain, tubuh dan pakaiannya sangat kotor. Rambutnya panjang dan jempet. Yang paling menjijikan adalah karena dari matanya keluar kotoran, mungkin lendir atau apa. Teman saya bilang kotorannya itu seperti mentega (mau-maunya dia memperhatikan). Saya sih tidak tega memperhatikan wajahnya, hawatir kehilangan selera makan.
Seorang tukang obat mereka-reka cerita tentang si Oyay. Dia bilang Oyay itu kena penyakit sifilis atau raja singa. Rada masuk akal, di Bioskop Garuda dan Gedung Sandiwara Sri Asih memang sering terlihat pelacur menanti pelanggannya. Mungkin saja Oyay salah satunya, lalu terjangkit sifilis dari pelanggannya. Kata si tukang obat, sifilis itu akan menyerang saraf kaki (sehingga ngarampeol), tangan (sehingga komper),dan lidah (sehingga bicara menjadi pelo). Lalu si tukang obat memperagakan cara lari seorang penderita sifilis yang dikejar ular (Sunda : oray), tertatih-tatih, tangan komper bergoyang-goyang, sambil berteriak : “Oyaaay …!” Pose dan teriakan Oyay ini sering muncul diperagakan oleh teman-teman kalau sedang bercanda.
Dari segi membuat takut orang agar tidak berhubungan dengan pelacur, bagus juga cerita tukang obat ini. Tapi dari segi keakuratan aspek medisnya, entahlah …
Kabarnya pernah ada pegawai Dinas Sosial yang ditawari naik pangkat asal mau mengangkat Oyay ke mobil untuk disingkirkan dari jalan. Tapi entah bagaimana ceritanya, Oyay kembali duduk di lokasi itu.
Ada lagi seorang perempuan gila yang suka berjalan di sekitar Jl. Cikole. Menurut carpon tulisan Pk Johar Efsa (guru Ilmu Bumi di SMP 1), suaminya ditabrak delman ketika dia sedang naik sepeda. Rasa kehilangan yang mendalam membuatnya menjadi gila.
(Kenang-kenangan dari kota Sukabumi, 1955 - 1973)
10:25 Posted in Sukabumi | Permalink | Comments (2) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: oyay, atret, Johar efsa, sukabumi
04/24/2008
KALI Apa yang Mengalir di Tengah Kota Sukabumi ?
Pertanyaan teka-teki di atas terlontar ketika sedang bergurau di antara teman-teman SMP, sewaktu masih di Sukabumi. Satu teman menjawab Kali Cikiray, yang lain menjawab Kali Cipelang, Cisokan, Cisaat, Cicurug dan lain-lain.
Jawaban yang betul adalaaaaah …. Kaliwon.
Dari penampakan fisik, orang akan menggolongkan dia sebagai gelandangan, orang gila, pengemis dan sebagainya.
Dia bisa disebut gelandangan karena memang waktunya lebih banyak dihabiskan di jalan, duduk di trotoar, atau berjalan entah kemana. Kalau kita berjalan di jalan utama kota Sukabumi, yang biasa disebut Jalan Raya, hampir dapat dipastikan akan berpapasan dengan Kaliwon, atau menemukannya duduk di sekitar belokan ke Bioskop Garuda.
Dia bisa disebut orang gila karena dia selalu membawa seikat besar senjata tajam kemanapun dia pergi. Dalam ikatan itu ada samurai, macam-macam tombak, keris, macam-macam pedang, dan sebagainya. Taksiran saya, beratnya mungkin 20 kilo, dan Kaliwon sendiri waktu itu umurnya mungkin sekitar 60-an.
Potongan baju dan celananya seperti kepunyaan para jawara, berwarna hitam. Kain sarung dan ikat pinggang yang lebar melilit di pinggang. Kepala dililit oleh kain bermotif batik. Jari tangan penuh dengan cincin bermata besar. Ada gelang akar bahar hitam di pergelangan tangan. Roman mukanya keras, sorot matanya tajam, garis dagunya kuat seperti pangeran Diponegoro. Kulitnya coklat gelap, berkumis dan berjenggot.
Entah dimana dia tidur kalau malam. Tapi banyak sekali tempat untuk gelandangan tidur di kota Sukabumi, di antaranya adalah pelataran setasiun kereta api. Dengan gerbong-gerbong kosongnya.
Kaliwon tidak pernah terdengar mengancam orang dengan senjata tajamnya itu. Bahkan dia tidak pernah saya lihat menadahkan tangan untuk meminta uang pada orang yang lewat. Tapi dia akan menerima uang yang diberikan padanya, tanpa ekspresi apa-apa.
Saya tidak pernah mendengar Kaliwon bicara jelas. Dia cuma bergumam entah dengan bahasa Jawa, Belanda atau Sunda. Ada yang bilang Kaliwon kenal dengan, atau bahkan adalah teman seperjuangan Presiden Sukarno. Wallahu alam. Tidak pernah ada yang iseng melakukan check dan recheck.
Kegiatan sosial Kaliwon yang sering saya lihat adalah menonton sandiwara di Gedung Sandiwara Budaya, di depan markas Kodim. Dia menduduki yang khusus disediakan untuk dia. Kursi tersebut diletakkan tepat di depan panggung, di ujung gang yang membelah gedung di tengahnya, dari belakang sampai ke depan. Kabarnya dia suka dengan salah bintang panggung disitu, bahkan sering kabarnya melemparkan uang ke panggung untuk si bintang.
Jawatan Sosial kabarnya pernah berusaha menyingkirkan dia dari jalan. Tapi Kaliwon selalu kembali ke jalan … kembali mengalir lagi … di tengah kota Sukabumi.
(Kenangan tentang kota Sukabumi, 1955 - 1973)
22:50 Posted in Sukabumi | Permalink | Comments (7) | Trackbacks (0) | Email this | Tags: sukabumi, kaliwon



