08/29/2006

Muhibah ke KL (2)

Jumat, 5 Desember 2003
Harus saya akui disini bahwa makan pagi dengan cara buffet, baik itu di Bangkok, Singapura ataupun di KL, semuanya merupakan acara yang sangat saya nikmati. Selain makanannya enak, juga suasananya santai, mengobrol dengan teman satu meja, saling menyapa “selamat pagi” di antara angota rombongan.

MPOB (Malaysian Palm Oil Board)
Rombongan diterima di ruang seperti teater. Tuan rumah diwakili oleh seorang dari Public Relation dan seorang akhli. Si akhli ini ternyata pernah kuliah di Australia, dari universitas yang sama dengan Prof. Egum.

medium_BKK-SIN-KL_080.jpg

Di luar ruangan saya bertanya pada PR officer tersebut mengenai sambutan masyarakat Malaysia terhadap tanaman transgenik. Dia bilang MPOB sadar bahwa ini adalah subjek kontroversial, sehingga MPOB tidak terlalu membuatnya high-profile. Riset dilakukan hanya untuk tujuan non-makanan.

Sembahyang Jumat
Bis di parkir di pinggir jalan. Yang tidak sembahyang tetap di bis. Saya mendapat tempat duduk di tengah, baris ke empat dari depan. Tepat sesaat sebelum azan, ada serombongan orang mengantar laki-laki berpakaian bagus berjalan di atas kain putih, langsung mengambil tempat di baris paling depan.

Di bis, si pemandu wisata bilang bahwa orang yang berpakain bagus itu adalah Yang di Pertuan Agong.

Makan Siang
Makan siang di satu restoran berselera India. Saya semeja lagi dengan Prof. Syamsul dan Pk. Fahmi. Kami mengobrol sambil makan, sampai berkeringat walaupun ruangan berAC. Pk Fahmi bilang bahwa justru kalau bekerja dia tidak berkeringat.

Muhibah ke KL (5)

Sabtu, 6 Desember 2003
Di Kuala Lumpur dan sekitarnya

Istana NegaraIni adalah kediaman resmi Raja Malaysia, Yang di Pertoan Agong. Suasananya mirip di depan Istana Buckingham, London. Ada pintu gerbang, penjaga berseragam, dan wisatawan mengambil gambar. Kelebihan disini adalah ada penjaga yang menunggangi kuda (1).

medium_BKK-SIN-KL_094.jpg


Malaysian Agricultural Park
Yang menjadi tujuan utama disini adalah taman Empat Musim, yaitu sebuah bangunan yang membuat simulasi cuaca di negara dengan 4 musim. Mereka mengambil reference waktu ke negara New Zealand, yang pada hari-hari awal December sedang masuk musim panas. Tadinya saya pikir suhunya akan panas, ternyata masih terasa dingin, padahal saya sudah melepas jaket.
medium_BKK-SIN-KL_098.jpg
Setelah itu rombongan menuju Musium Cendawan. Salah satu anggota rombongan ada yang bertanya ke pemandu Malaysia, apa itu cendawan. Mudah-mudahan yang bertanya itu bukan sarjana pertanian, karena kalau iya, maka saya akan menangis. Ada satu ruangan yang mengingatkan saya pada satu ruangan di Taman Cibodas. Cuma, di Musium Cendawan Malaysia ini lebih rapih, setiap contoh diberi label yang jelas.

Didekat musium ada sebuah telaga. Orang Malaysia menyebutnya tasik. Saya bilang ke Pk Fahmi, ini adalah tasik malaya yang asli, yang di Jawa Barat itu seharusnya tasik Indonesia.
Dalam kamus bahasa Sunda, ternyata tasik itu berarti telaga juga, meminjam dari bahasa kawi.

Makan siang
Restorannya ada di tepi satu jalan yang ramai. Karena bis diparkir di seberang restoran, maka rombongan sedikit mendapat masalah waktu menyeberang.

------------------------
Catatan:
(10 Saya perlu mengemukakan hal berikut ini. Pernah satu hal yang tidak menyenangkan terjadi pada saya di Palembang. Waktu berkunjung ke Palembang, saya mencari bangunan khas disitu untuk latar belakang foto. Jembatan Ampera sudah. Lalu saya menemukan rumah dinas Gubernur cukup bagus. Setelah mengambil satu dua gambar, tiba-tiba datang seorang penjaga. Dia mengajak saya ke posnya, menasihati saya panjang lebar yang intinya adalah mengambil foto rumah dinas gubernur itu dilarang. Dalam hati saya berkata, Ratu Inggeris, salah satu negara adidaya di dunia, membiarkan saja turis mengambil jutaan foto Istana Buckingham setiap tahun, dan dia tetap berwibawa. Tapi percuma saja kalau bicara, tahu apa seorang letnan angkatan darat tentang pemasaran pariwisata.