09/01/2006
BKK : Prosaaaak
Bangkok
Pesawat tiba di Don Muang (1). Antri di imigrasi lama sekali. Sempat berbincang dengan Prof. Syamsul. Dia bicaranya tidak selancar kalau sedang mengajar. Suaranya pun tidak sekeras di kelas. Ternyata dia pernah sekelas dengan Arryman dan Dadan (keduanya dari TI-ITB 74), waktu di AIT (Bangkok) dan di Perancis. Belakangan baru saya tahu bahwa dia diajak ikut widyawisata, salah satunya adalah untuk penunjuk jalan di Bangkok. Atau mungkin itu hanya bergurau saja.
Lamanya mengantri di depan meja imigrasi membuat saya jadi memperhatikan intonasi perempuan yang membacakan pengumuman. Intonasinya sangat melodius, seperti orang Cianjur jaman dulu. Selalu dimulai dengan ucapan “prosaaaak”.
Setelah imigrasi, rombongan menuju tempat pengambilan bagasi. Bagasi saya sudah disana tentu, mengingat lamanya antrian di imigrasi. Setelah bagasi, rombongan menuju ruangan lain, sebelum keluar terminal. Disini rombongan menanti lagi agak lama, entah untuk apa. Ada beberapa orang yang membeli lagi Bath. Selain orang kulit putih, terlihat banyak juga orang Pakistan (?) atau Arab (?).
Sebelum masuk ke bis rombongan, ada seorang gadis mengalungkan rangkaian bunga ke leher setiap anggota rombongan, lalu tangannya menangkup seperti menyembah. Setelah itu tiap anggota rombongan difoto berdua dengan si gadis.

Pemandu wisata adalah orang lokal. Tapi setelah memperhatikan kemampuan dia berbahasa Indonesia, saya punya dugaan dia adalah orang Cina yang lahir dan besar di Indonesia yang lalu berimigrasi ke Thailand. Namanya Hok San.
Beda dengan di Cengkareng yang hiruk-pikuk dengan penjemput, terminal kedatangan Don Muang relatif sepi (2).
Suatu hal yang mecolok terlihat di jalan antara Don Muang Airport dan Bangkok adalah jalan tol-nya. Kadang satu level, kadang elevated . Juga ada satu hal yang khas, yaitu banyaknya elevated U-turn. Di Indonesia biasanya U-turn dibuat dengan menyodet median, dan kita akan dipandu oleh mat cepe (3).
Sepanjang jalan banyak bangunan yang relatif kecil (mungkin untuk kantor kecil individual, toko atau rumah). Banyak yang sudah pudar catnya. Apakah ini karena mereka belum sepenuhnya bangkit dari krisis. Atau mungkin mengecat ulang perlu izin ? Tidak sempat saya tanyakan kepada Hok San.
---------
(1) Saya pikir-pikir, makanan yang disajikan di pesawat oleh perusahaan penerbangan dapat merupakan ajang untuk mencoba resep baru. Kecil kemungkinannya penumpang menolak makanan penemuan baru yang disajikan di pesawat. Mereka lebih cenderung untuk mencicipi. Kemudian, mungkin memakannya habis, atau hanya sebagian saja. Tapi yang penting untuk chef adalah bahwa penumpang sudah mencoba.
Jarang saya melihat restoran membuat resep baru dan langsung masuk menu. Dari yang jarang itu ada Restoran Bakso Malang Karapitan yang membuat beberapa inovasi makanan dan minuman. Biasanya digabung sebagai paket dengan makanan lain, atau sebagai bonus.
(2) Mungkinkah ini ada hubungannya dengan angka tingkat pengangguran di Indonesia (6,1%) dan Thailand (2.4%) ? Di Cengkareng terlihat banyak orang yang kayaknya tidak pernah pulang, tidak jelas siapa yang dijemputnya. Dan banyak terlihat orang penjual makanan di tempat parkir Cengkareng, seperti menanti tak henti-henti. Orang yang menganggur akan berkerumun pada tempat dimana terdapat kesempatan untuk mencari uang. Sebenarnya gadis pengalung bunga di Don Muang juga tidak begitu primer fungsinya, tapi mungkin ini dibuat sedemikian untuk menyerap tenaga kerja.
(3) Selama ini saya berpendapat, seperti juga pendapat orang lain kalau saya mengobrol, bahwa jalan layang akan memperburuk pemandangan kota. Gedung-gedung tinggi yang dirancang untuk dilihat dan dinikmati dari jarak agak jauh akan terhalangi oleh jalan layang. Ambil saja contoh arsitek Mesjid Istiqlal, Silaban, dia tidak mau ada jalan kereta setinggi yang ada sekarang melintas di dekatnya. Tapi setelah melihat Bangkok, saya pikir jalan layang tidak terlalu merusak pemandangan. Apalagi kalau jalan layangnya didisain bagus. Tapi bagaimanapun saya tidak setuju jalan layang di Jl. Thamrin di Jakarta.
09:00 Posted in Bangkok | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: bangkok, prosak, hok san, u-turn, jalan layang
BKK : Ulang Tahun Raja

Saya dan Edy memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan di sekitar hotel. Edy membeli beberapa kaset di satu toko. Saya hanya melihat-lihat VCD lokal. Saya lihat banyak judul film yang dibuat di Thailand. Beberapa ada yang bergambar erotis.
Ketika pulang saya membeli Bangkok Post, koran lokal yang berbahasa Inggeris. Di halaman 10 ada berita yang relevan dengan bidang agribisnis. Dikatakan bahwa CP (Charoen Pokphand) Group dari Thailand telah menanda-tangani sebuah perjanjian dagang dengan pemerintah provinsi Saanxi di China. Dengan perjanjian ini CP akan mengekspor 2.300 ton buah segar ke China mulai saat itu sampai triwulan pertama tahun 2004, sebagai tukaran dari 15.000 ton buah-buahan dari Saanxi (1).
Buah-buahan Thailand yang diliput dengan perjanjian di atas adalah pomeloes, longan, mangosteeen, mango dan durian. Sebaliknya dari China ada apel, pears, buah kiwi, red jujubes dan lington pomegranates.
Berita relevan lain adalah mengenai turisme. Tourism Autority of Thailand memproyeksikan kenaikan 20% dalam jumlah kedatangan turis di tahun 2004. Dalam tahun 2003, diperkirakan jumlah turis yang datang berjumlah 9,7 juta, 10,5% lebih rendah dari tahun 2002 karena efek dari wabah SARS dan perang Irak. Bisnis spa, yang akan tumbuh dari 300 ke 400 pada tahun 2004, diharapkan dapat meningkatkan daya saing Thailand terhadap pesaing utamanya di kawasan ini, yaitu Bali.
Di Don Muang menunggu agak lama. Di ruang tunggu, Pk Fahmi bersama beberapa orang sholat di atas karpet, beralaskan koran.
---------------
(1) Lebih jauh di Bangkok Post tanggal 3 Desember 2003 : Buah-buahan Thailand yang diliput dengan perjanjian di atas adalah pomeloes, longan, mangosteeen, mango dan durian. Sebaliknya dari China ada apel, pears, buah kiwi, red jujubes dan lington pomegranates. Saanxi merupakan daerah produksi buah-buahan utama di China dengan output total 5,15 juta ton, 3,9 juta ton di antaranya apel.
Hal ini merupakan tindak lanjut dari yang sudah dimulai di Bulan Oktober 2003, yaitu dibuatnya persetujuan mengenai bilateral free trade area. Dengan persetujuan itu Thailand dan China menghapus tarif dari 116 item berupa buah dan sayur. CP mempunyai rencana untuk membuat perjanjian lain dengan provinsi yang lain seperti Liaoning dan Shandong.
Pengapalan buah segar dan didinginkan ke Hong Kong dan China mencapai 21,35 triliun Baht dalam tahun 2002, yang merupakan 61% dari total exkspor buah-buahan Thailand. Secara total nilai ekspor Thailand adalah 35 triliun Baht : 9 berupa buah segar, 18.6 diproses dan 7.4 berupa juice.
Walaupun begitu, eksportir Thailand tetap dalam situasi yang tidak menguntungkan, terutama karena China memungut PPN 13% dan menerapkan batas yang ketat berkenaan dengan residu kimia.
02:00 Posted in Bangkok | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: bangkok, ulang tahun raja, charoen pokphand



